Sekali Lagi

.

oleh
Bicky Perdana Putra

Sekali lagi, terkesan mental baja setengah dewa Dia kembali lagi mencoba. Hal yang mustahil untuk didapatkan. Yup, hanya sebuah ungkapan sakti bernama cinta. Apapun yang berpotensi untuk melukai dan mengenyahkan seorang pria dari perjuangan cinta, tidak akan dapat membuatnya menyerah. Tsunami yang dengan dahsyat menghantam tidak berhasil menghentikannya. Karena Dia tidak berada di Aceh, melainkan di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jakarta Utara, Tanjung Priok, Plumpang. Hehehe (detail yang ga perlu dimengerti).



*

Sekali lagi. Lagi, aku menunggunya di depan tempat fotocopy, dekat dengan jalan F gang L. Tempat dimana dahulu kala aku melakukan hal yang sama, walau dengan cara yang sedikit berbeda.

Jam 09.00pm. Dengan memegang tas berisi boneka babi merah jambu, warna kesukaannya, sekali lagi kuyakini keteguhan hatiku. I’m gonna make it…

Sebelum ini, di sore tadi, aku menelponnya, sekedar mengatakan akan kutunggu lagi di depan tempat fotocopy biasa mulai jam sembilan malam. Aku tidak memaksanya untuk datang. Di sana aku hanya menunggunya untuk datang, hingga jam 12 malam.

Sebelumnya lagi, siang ini, aku bersama seorang sahabat, bermotor di tengah kepulan asap dan neraka bocor Jakarta, menuju Trade Centre. Dengan keyakinan dan rencana besar gemilang, kali ini aku akan berhasil. Pasti berhasil.

Saat ini, at the present, 09.50pm, hal itu dapat kupastikan dengan sedikit melirik jam. Di seberang jalan sana, pandanganku merapat, dan terkadang terpotong angkot dan motor yang lewat. Ia datang. Celana panjang, sepertinya training, blouse hitam, kaos putih, seperti biasa, cantik.

*

Lagi. Ia menelponku di sore hari, mengajukan ajakan untuk bertemu, dengan kata-kata pamungkas bahwa Dia tidak memaksaku untuk datang. Kali ini jam 09.00 malam Ia mulai menunggu. Kubilang tidak, dan Ia tidak peduli.

Menunggu malam, seperti dihantui voldemort. Aku memang berniat tidak peduli, tapi tetap saja ada sedikit rasa takut. Tidak banyak orang seperti Dia. Keras kepala, menjengkelkan, annoying, pantang menyerah, dan pantang tahu diri.

Takut. Tapi aku tetap datang. Jam 08.50pm, lebih awal sebelum Dia datang. Aku melihatnya datang, melihatnya senyum, melihatnya begitu tenang dan percaya diri. Seakan kali ini Ia akan berhasil menarik hatiku, mendapatkan cintaku. Seakan keberhasilan sudah dipegangnya.

Ia selalu saja memintaku untuk memberinya kesempatan. Tapi sayangnya, hal tersebut tidak pernah kuberikan. Karena terdapat beberapa faktor yang hanya aku dan Tuhan lah yang berhak mengetahuinya. Kesempatan yang Ia tunggu-tunggu, tidak akan pernah datang. Karena memang benar, cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi Dia tetep pada pendiriannya, bahwa jika kuberikan kesempatan, Ia akan membuatku belajar bertahap untuk mencintainya balik. Biarlah. Itu yang selalu kubenamkan di otak selama ini. Biarlah Dia berkreasi, dan aku tetap berdiri pada pendirianku.

Sudah hampir satu jam. Dan Dia masih menungguku. Kerjaannya hanya duduk, senyum-senyum, sungguh aneh. Tidak sekalipun Ia melihat jam. Dan tidak sedikitpun Ia menyadariku.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah, sudah terlalu malam untuk waktu bermain. Aku dengan sengaja menampakkan diri. Dan sekarang aku berseberangan dengannya. Ia melihat jam, lalu tersenyum.

*

Andy menyambut Kasih dengan hangat. Ia mengulurkan bungkusan cantik berisi boneka babi warna merah jambu yang lucu. Lalu menyerahkan selembar kertas kepada Kasih.

“Maaf, Kas. Di sini terlalu berisik, gw takut lo ga denger dengan jelas apa yang akan gw katakana. Trus adegan ini ga keren kalo kalimatnya diulang-ulang”.

“…”.

“Jadi dengan cerdas gw tulis mua yg mo gw katakan ke lo. Hwehehe”.

“Hm…”, senyum-senyum.

Sunyi beberapa saat.

“Mo nembak gw lagi yah?”.

“Aduuuh… klo bisa ketebak gini kerennya jadi bkurang Kas. Payah neh!”, cemberut.

“Seperti biasa. Cacat mental…”, dingin dan skeptis.

“Hah?!”.

“Nothing”, skeptis.

Sunyi lagi.

“Jadi gini, Kas. Sekali lagi gw mo nyatain perasaan gw ke lo, untuk menegaskan bahwa gw bener-bener cinta Kasih”.

“Udah tau”.

“Yang ini udah di update”

“Kya anti-virus”

“Argh… udah cukup becandanya”

Sunyi sebentar.

“Yah, walau Kasih udah tau perasaan gw k Kasih. Tp masih penting untuk gw menyatakannya sekali lagi. Gw kan ga tau apa aja yang udah berubah d dunia ini dalam sebulan terakhir”

“…”

“Jd, maukah sekarang Kasih jd kekasih gw? Byar menarik, kli ini gw buat peraturan khusus. Klo Kasih terima gw, kembalikan boneka itu ke gw. Dan klo Kasih nolak gw, boneka itu harus Kasih miliki. Gw minta alasannya sekalian”

“…”, menampakkan raut muka bingung.

“Otomatis jawabannya musti sekarang juga”

Sunyi agak lama. Andy memerah. Kasih tetep cool. Keduanya masih aja berdiri di depan tempat fotocopy di dekat Jalan F gang L.

“Bisa pinjem pulpen?”, Kasih sambil mengulurkan tangan.

“Sure”, sambil mengulurkan pulpen.

“Alasannya gw tulis d kertas juga, takut ga kedengeran, di sini agak berisik”

“(Sssshiialll!)”, Andy dalam hati.

“Bick. Maaf ya…”, Kasih sambil nulis.

Seketika raut muka Andy berubah murung, tapi terdapat sedikit simpul senyum di bibirnya ketika itu. Lalu, Ia berubah tersenyum lagi.

“Jangan dibaca sebelum sampe d rumah yah. Inget!”

Kasih masih sibuk nulis alasan. Sepertinya Dia berpikir keras untuk menemukan alasan yang tepat.

“Dah. Nih”, Kasih sambil memberi kertas yang sudah dilipat rapi.

“Makasih ya, Kas. Udah mao dateng malem-malem gini”

“Makasih juga untuk bonekanya”

Kasih lalu berjalan pergi meninggalkan Andy.

“Kas!”

“Ya?”

“Selamat malam”

“Malam”, berlalu.

*

Setelah semuanya terjadi, aku masih saja berdiri di tempat itu. Menatapnya hingga menghilang di sudut jalan. Lalu diam sejenak, berpikir tidak percaya. Bahwa, aku.

“Berhasil!!!”

Aku pun menaiki motor kebangsaan. Pulang. Di tengah jalan, aku berhenti dan membuka lembaran kertas yang diberikan Kasih. Aku membacanya, lalu termenung. Dan sekali lagi, dengan perasaan sukses besar, aku.

“Berhasil kan, Kasih”, senyum sambil menatap langit kosong Jakarta di malam hari.

*

Aku masih sedikit bingung dengan hal yang baru saja terjadi. Orang normal seharusnya tidak membuat syarat yang aneh seperti tadi. Masih sambil bingung memasuki Gang L, aku berjalan pelan.

“Apa ga seharusnya klo gw terima baru bonekanya dikasihin ke gw?! Padahal gw tolak tapi knapa Dia malah ngasih bonekanya ke gw?! Weird”, Kasih sambil berjalan pelan ketika tiba-tiba.

“(deg!)”, Kasih tersentak, lalu berdiri terdiam.

“Andy…. Sialan”, sedikit menunduk, menyimpul senyum tipis.

*

(((flash back-seminggu yang lalu)))

(((Andy berangkat sekolah dengan tas agak sesak. Kembali Ia berniat melakukannya.

Dan sore hari, ketika berada di rumah,

“Tulalit..tulalit..”, suara telepon rumah berdering.

“Assalamualaikum”, Andy.

“Walaikumsalam. Bisa bicara dengan Andy?”,

“Yah, ada apa Kas?”, dengan pasti mengenali suara Kasih.

“Makasih yah bonekanya”

“Boneka?”

“Babi pink”

“Babi pink?”

“Ga usa belaga ga tau deh. Yg lo taroh d laci gw hari ini tadi pagi”

“Hmm…”

“Gw tutup neh!”

“Ok..ok.. nyantai mba. Maaf…maaf…”

“Ga usah mnta maaf. Makasih”

“Sama-sama”

“Bick. Boleh minta tolong ga?”

“Yah?”

“Gw minta jangan lagi-lagi ngasih gw boneka babi pink. Bisa?”

“Sapi?”

“Gw lagi ga becanda neh!”

“Kenapa? Ga suka yah pemberian gw?”

“Mending uangnya lo tabung daripada untuk ngasih gw boneka babi mulu. Lagian kamar gw udah kaya ternak babi neh, gara-gara lo”

“Hehehe. Ga mao”

“Boneka selanjutnya, ga akan gw terima”

“Hmm…”

“Gw udah ngasih peringatan”

“Boneka selanjutnya…”

“Iyah”

“Pasti lo terima. Gw janji”

“Ga akan gw terima. Janji. Assalamualaikum”

“Ceklek!!”, gagang telepon tertutup)))

_The End_

Bagi gw saat itu. Ga pernah ada pikiran untuk berhasil mendapatkan cinta Kasih. Dia memang terlalu jauh dari jangkauan gw. Bener2 ga akan tergapai. Kecuali gw anaknya Tom Cruise. Dia pasti mao jadi pacar gw karna pengen sering2 ktemu bokap gw. Hehehe. Kecuali itu, dalam keadaan apapun gw pasti ditolak. Termasuk juga hari itu, malam itu. Gw cuma pengen Kasih kembali nerima boneka pemberian gw.

Gw tau Kasih pasti nolak gw. Entah Kasih malam itu sadar atau ga dengan perbuatan ini. Andaikan Kasih ga sadar, tindakan refleks yang akan dilakukannya malam itu udah pasti adalah nolak cinta gw. Dan walaupun Dia sadar saat itu, tetap ga ada pilihan lain untuk menolak boneka itu. Karna pilihan satunya, adalah menerima gw, sebuah langkah menuju neraka dunia yang akan mempercepat datangnya kiamat. Peduli setan dengan janji dan segala macamnya. Karena prioritas utama Dia di setiap penembakan yang dilakukan oleh gw adalah, tolak gw. Hwehehe…

Kasih kala itu, masih sayang akan dunia ini dan seluruh umat tidak berdosa lainnya. Maka Kasih pasti menolak gw. Apalagi pengorbanannya hanya sebuah boneka babi merah jambu. Tentu Kasih ga ingin kiamat dipercepat lantaran Kasih nerima cinta gw saat itu. ^_^!

_True End_

(Read More..)

Kamus Kata Hati

.

oleh
Bicky Perdana Putra

Di suatu kota yang indah, hidup seorang Andy dan seorang Tina. Masing-masing mereka mempunyai malaikat pendamping, yang selalu menjaga dan mengawasi. Entah itu perbuatan, sikap, ataupun hati.

Tina, sebuah kata yang berada di hati Andy. Dengan arti, cinta pertama.

Semua orang sudah mengetahui. Andy jatuh cinta kepada Tina. Ia melakukan pendekatan secara gila-gilaan. Sampai-sampai membuat malaikat pendamping Tina terharu dan mulai meniupkan kata ‘suka’.


*

“Eh temen-temen. Ga tau kenapa, tapi lama-lama aku ko jadi suka sama Andy yah?!”, Tina.

“Yang bener, Ndah! Orang kaya Andy??”, Sisi, salah satu teman dekat Tina, dengan nada merendahkan.

“Memang kenapa? Menurut aku dia baik kok”, Tina sedikit protes dengan nada Sisi.

“Baik. Ada baiknya Tina pikir-pikir dulu. Daripada Tina nyesel nerima cowo kaya dia. Hehehe...”, Sisi kembali dengan nada yang sama.

Tina pun terdiam.

*

Begitu malam tiba, di kamar Tina terjadi sebuah monolog batin.

“Apa iya ya, yang dibilang temen-temen, kalau Andy bukan kelas kita?”, hening sejenak “Tapi menurut hatiku, Andy orangnya lumayan kok”, Tina sedikit tersenyum.

Karena sudah cukup lama dan bosan dengan ‘suka’ sang malaikat pendamping Tina pun mulai menyisipkan kata ‘cinta’ pada kamus hati Tina dengan arti ‘kelanjutan dari level suka’.

*

Suatu hari, Tina kembali membicarakan Andy kepada teman-teman dekatnya.

“Temen-temen, aku mo minta pendapat kalian masing-masing mengenai Andy. Boleh?”, Tina memulai dengan manis.

“Emm...kalau menurutku seh, Andy itu cuma main-main sama Tina. Mungkin dia taruhan sama temen-temennya kalau dia bisa dapetin Tina”, Mita.

“SETUJU! Liat aja tampangnya. Ga ada penampilan cowo baik-baik”, Sisi.

“Mungkin juga Andy cuma penasaran doank ma Tina”, Nefi.

“Kalian semua mikirin sisi negatifnya doank! Bisa jadi dia bener-bener serius ma Tina!”, Riri.

“...”, Tina

“Tapi walaupun dia bener-bener serius, apa Tina mau sama Andy? Ya pasti enggak lah! Andy tuh bukan joinan kita. Dia ga selevel sama kita-kita”, Sisi.

“...”, Tina menunduk sedih. Namun kesedihan tersebut tidak sampai terlihat oleh teman-temannya.

Seminar minta pendapat yang diadakan Tina berubah menjadi forum menghujat Andy habis-habisan. Siang itu, semua kata-kata kasar ditujukan kepada Andy, seakan kalau Andy lah satu-satunya makhluk hina yang pantas diludahi saat itu.

Tina pun hanya bisa terdiam. Ingin sekali Dia menuruti kata hatinya dan berteriak “DIAM” sekeras-kerasnya. Tapi mulutnya menutup rahasia hatinya agar tak seorangpun yang tau mengenai rasa cintanya terhadap Andy.

*

Sepulang sekolah, Andy memberanikan diri menembak Tina, lagi.

Sebagian besar siswa sudah menghilang cepat. Maklum, sekolah ini menerapkan jam aktif belajar hingga pukul empat sore. Hal itu membuat keadaan semakin menguntungkan Andy. Maklum, pemalu.

Tina yang masih memikirkan obrolan dengan teman-teman di kantin tadi siang, tidak menyadari bahwa kelas telah kosong. Ia terlalu melamun untuk beberapa saat, sehingga sapaan teman-teman pun tidak didengarnya.

Saat kembali ke alam sadar, Tina tersentak dan bergegas pulang. Ia pun tidak menyadari keberadaan Andy di dalam kelas.

Ketika Tina telah keluar ruang kelas, Andy dengan hati-hati mengikuti. Tapi masih kurang hati-hati, karena Tina seketika sadar akan Andy, dan mengetahui Andy mengikutinya perlahan.

Sebelum menyentuh tangga, Tina berhenti. Andy berhenti, berniat mengambil langkah mundur dengan ragu-ragu, lalu kembali maju, mengangkat tangan, dan menegur Tina dengan jurus ‘bersikap biasa saja’ yang gagal total.

“Hey, Tina! Mau pulang?”, gemetar dan mendadak bodoh. Siapa juga yang mau piket jam segini.

“Iya”, Tina menjawab dengan manis. Ternyata baik juga.

“Gw anter yah?”,

“Ga usah, Ndy. Aku naik angkot aja”,

“Oh...”,

“Ada lagi?”,

“Emm... Tina. Sebenernya gw mo nembak Tina. Boleh?”, dengan bodohnya meminta izin.

“(Deg!!)”, degup jantung Tina keras dalam dadanya.

“(Diam tanda setuju... okey!)”, Andy dalam hati.

Keadaan hening sesaat.

“Tina, mungkin ini terkesan main-main karena seringnya gw nembak Tina, walaupun selalu ditolak tapi gw terus aja maju kaya orang ga tau malu. Tapi dengan segala hal yang kita sebut cinta ini, gw cuma ingin mencoba sekali lagi, untuk...”, Andy bertele-tele dan gemetaran.

“(Deg! Deg! Deg!!)”, Tina semakin berdetak dan mulai memasang muka bingung.

“Maukah jadi pacar gw?”, kali ini Andy mulai kalut, gemetaran, dan deg-deg an.

Sekali lagi, terjadi dilema di dalam hati Tina. Antara kehormatan di mata teman-temannya, dan sebagian dari hati kecil yang kini berdiri di hadapannya.

“Maaf... Ndy. Gw lagi ga mo pacaran dulu...”, kalimat singkat yang terdengar ringan diucapkan Tina sambil berjalan meninggalkan Andy. Kembali ke tujuan semula, menuruni tangga dan pulang.

Sedangkan Andy hanya berdiri terpaku, diam tak bergerak. Sementara itu kedua malaikat (malaikat pendamping Tina dan pendamping Andy) berdiri diam tak percaya.

Setelah beberapa saat mereka akhirnya berbicara.

“Sesungguhnya Ia tidak mengetahui apa yang baru saja dilewatkannya...”, kata malaikat A sambil menatap Tina. (kita singkat pendamping Andy sebagai A, pendamping Tina sebagai T)

“Tak bisa kupercaya... Ia telah menanggalkan sebagian dari hatinya, demi hati teman-temannya...”, kata malaikat T yang masih berada di tempatnya semula.

“Entah perbuatan seperti itu harus kusebut pengorbanan, atau kebodohan... atau sebuah pengorbanan yang bodoh”, tukas malaikat A.

Kedua malaikat yang mengetahui semua kebenaran itu akhirnya saling bercengkerama membelakangi Andy yang masih tetap terdiam.

“Aku sudah berusaha untuk mempersatukan mereka melalui hati kecil Tina, hanya itu yang bisa kulakukan, namun sepertinya Allah berkehendak lain”, malaikat T.

“Banyak pasangan yang hanya bermain-main dengan hati dan perasaan dii sekitar kita, begitu banyak hati-hati palsu yang tercoret di atas kertas puisi-puisi jiplakan... dan mereka memiliki jalan, dan mereka memiliki langkah...”, malaikat A.

“Ya, sedangkan dua hati ini, yang benar-benar terisi merah, yang benar-benar perjuangan tanpa kemunafikan... mereka sama sekali tidak memiliki jalan, padahal mereka pun tidak memiliki sayap”, malaikat T.

“Kini mereka terjebak dalam dilema. Dan merekapun tidak dapat melangkah lebih jauh ataupun terbang tanpa sayap... kini jalan mereka hanya sampai di sini. Meraka hanya bisa memilih untuk berpisah di jalan buntu ini, ataukah akan tetap di sini hingga mati”, malaikat A.

“Inilah takdir, kita tidak dapat menentang ataupun meyalahkannya...”, malaikat T.

Tiba-tiba Andy tersenyum,

“Aku tidak tahu perbuatanku ini apakah tergolong menyalahi takdir atau tidak,,, tapi jika memang tidak ada jalan, aku tidak perlu berjalan... jika memang tidak punya sayap, aku akan menciptakannya... jika memang tidak memiliki langkah, aku akan merayap.... Apapun yang memang pantas dan senilai dengan sebagian hatiku akan kulakukan. Lagipula hidupku belum berakhir di sini, jika aku harus mati aku mati, jika aku harus tidak mendapatkannya aku tidak akan mendapatkannya. Terima kasih atas percakapan kalian berdua, secara tidak langsung kalian telah memberiku semangat baru”, Andy secara tiba-tiba, lantas pergi begitu saja tanpa menengok ke belakang.

Kedua malaikat terheran dan saling menatap ragu.

“Ba...bagaimana bisa?!”, Malaikat A.

“Hmm... mungkin ini sebuah perjalanan yang tak bisa dimenangkannya... tapi, aku ada di pihaknya”, malaikat T sambil sedikit tersenyum.

Sedangkan malaikat A berusaha melihat ke dalam kamus hati Andy, dan Ia membaca sebuah kata bertuliskan “TINA”, dengan arti

“hal tak terdefinisi...”





_THE END_




Note : absolutely fictive

(Read More..)

Langit Pun Runtuh

.

oleh
Mujahidah Shafiya

Bau rumah sakit menyengat hidung. Kamar itu tidak kecil. Tapi sunyi. Hanya ada seorang pemuda tanggung dan ibunya.
Ibu bersandar di bahu Jun, anak sulung sekaligus anak lelaki satu-satunya. Napasnya terdengar berat. Jun terdiam. Ia memeluk ibunya erat. Hatinya diselimuti ketakutan.
Tuhan, jangan ambil Ibu.
Kepala Ibu terkulai lemah. Jun menangis.
##

Jun bersimpuh di samping tanah merah. Ia sudah berhenti menangis sejak tadi. Matanya menatap nisan bertuliskan nama Maitri, ibunya.
”Mas, ayo!” anak perempuan, tampak lebih muda dari Jun.
Jun menengok ke arahnya.
”Sebentar,” jawab Jun. Sekali lagi ia memandang makam ibunya, lalu berdiri dan beranjak meninggalkan pemakaman umum di Cempaka Putih, Ciputat, Jakarta Selatan itu.
##

”Plakk!!” tangan Ayah mendarat sempurna di pipi Jun. Jun tersentak ke samping tempat tidur. Ada apa ini? batinnya. Jun tak tahu kapan Ayah masuk ke kamarnya. Ia sedang tidur lelap sampai Ayah membangunkannya dengan kasar. Dan tamparan Ayah membuat Jun benar-benar bangun.
Jun tak bisa bersuara. Ia hanya memegangi pipi kirinya yang terasa panas.
”Kamu minum, Jun?” bentak Ayah sambil menatap Jun tajam.
”Nggak,” setengah sadar, Jun balik membentak. Ia kaget setengah mati mendengar pertanyaan ayahnya.
”Bohong! Kamu mabuk-mabukan, Jun?” Ayah kembali bersuara.
”Nggak!” Jun berteriak, ”Aku nggak bohong, Yah!”
”Benar, kamu nggak ikut minum?” suara Ayah melunak.
”Nggak, Yah...” suara Jun ikut melemah, ”Anak-anak lain yang minum, aku nggak...” memelas.
”...” Ayah memandangnya tajam, ”Ayah percaya kamu, Jun. Jangan buat Ayah kecewa,” Ayah meremas pundak Jun lalu meninggalkannya.
Jun masih duduk di posisi yang sama seperti saat Ayah membangunkannya. Ia termenung. Jantungnya masih berdebar kencang. Kaget, sedih, dan sakit hati bercampur jadi satu. Tiba-tiba ia melihat bayangan di pintu kamarnya yang setengah tertutup.
Ibu.
Perempuan agung itu mendekati putranya. Matanya memancarkan kasih yang luar biasa. Sebuah pengertian yang selalu ia tawarkan untuk anak-anaknya. Kesabaran yang tak pernah habis. Ibu tersenyum sambil mengelus kepala Jun.
Tangis Jun tumpah. Ibu terus mengelus kepala Jun, ”Kenapa Ayah nampar aku, Bu?” Jun bertanya di sela tangisnya. Ibu tak menjawab. Ia hanya memandangi Jun dengan mata teduhnya.
Ibu mengelus kepala lalu punggung Jun sampai ia kembali terlelap.
...
”Terus, kenapa Ayah nampar kamu?” Sofi bertanya sambil menyuapkan stroberi ke mulutnya.
”Ibu bilang, supaya aku nggak bohong,” jawab Jun.
”Kenapa nggak pakai cara halus?”
”Karena biasanya orang akan jujur saat tertekan,”
”Triiing...” ponsel Sofi berbunyi. SMS masuk.
”Siapa?” tanya Jun.
”Mama. Dia nyuruh aku pulang ke Bogor sore ini,” Sofi memandang Jun.
”Yaudah, pulang, yuk!” Jun berdiri.
”Tapi aku masih kangen. Libur sekolah kan nggak sering. Kapan lagi aku bisa ke Bandung?”
Jun berlutut di depan Sofi yang masih duduk di bangku, ”Kamu nggak boleh gitu. Orang tua tuh nomor satu. Kamu harus selalu nurut sama orang tua, apalagi ibu.”
”...”
”Makanya, kamu harus lulus SPMB di Universitas F. Biar kita bisa bareng-bareng di Bandung. Sip?”
”Sip,” senyum Sofi kembali terkembang.
Mereka pun keluar dari area kebun binatang itu.
##

Jun Pratama, anak pertama sekaligus anak lelaki satu-satunya. Dua orang adiknya perempuan: Jauza Dwi Utari dan Jihan Fitria. Mahasiswa semester tiga jurusan Arsitektur Universitas F Bandung ini pacarku. Tepatnya, pacar pertamaku.
Percaya cinta pada pandangan pertama? Sebaiknya iya. Karena itu yang terjadi padaku. Mungkin juga pada Jun.
Aku bertemu dengannya di bus kota. Kami sama-sama berdiri. Jun berdiri di dekat pintu belakang sementara aku di dekat pintu depan. Saat itu kami saling berhadapan dan berpandangan satu sama lain sampai kami terdesak ke tengah. Setelah kami berdiri berdampingan, aku tak berani mengangkat wajah.Tapi aku bisa merasakan pandangan Jun menembus kepalaku yang tertunduk.
Penumpang yang duduk di dekat Jun, berdiri. Jun tidak langsung duduk menggantikan orang itu. Ia hanya berdiri di samping kursi. Aku memandangnya heran tapi ia malah balik memandangiku lalu memiringkan kepalanya sambil melirik kursi itu. Aku paham maksudnya. Aku pun duduk. Dan Jun terdesak agak ke depan.
Tiga per empat perjalanan kami, dua penumpang di sampingku turun. Refleks, aku memandang Jun. Aku ingin Jun duduk di sampingku. Seolah memahami arti pandanganku, Jun mendesak beberapa penumpang yang sama-sama berdiri dan menghampiriku. Hampir saja ia duduk di sampingku, tapi aku harus kecewa. Jun kalah cepat dengan penumpang lain. Akhirnya posisi duduk kami adalah aku di samping jendela, seseorang di antara kami, dan Jun di sebelahnya.
Saat itu kami saling melirik dan tersenyum kecil, menertawakan harapan yang tanpa disadari muncul di hati.
##

”Burung merak ini pasti betina,” wajah Sofi berubah cemberut, ”Habisnya, dia cuma mau makan umpan yang kamu kasih. Punyaku dicuekin.”
”Hehe, cemburu kok sama burung merak?” Jun menggoda Sofi.
Mereka ada di kebun binatang. Kencan perdana.
”Fi, gajahnya nakal!” lapor Jun sambil memperlihatkan bajunya yang agak basah, ”Balas dong! Siram pakai air,” rajuknya manja. Sofi tertawa dan geleng-geleng kepala. Heran melihat tingkah Jun yang seperti anak-anak.
”Istirahat dulu. Capek,” Sofi duduk di bangku dekat kandang burung. Jun duduk di sampingnya, ”Mau?” ia mengeluarkan stroberi yang tadi dibelinya.
Jun menggeleng. Mereka saling pandang sejenak. Lalu Sofi tersenyum. Ia mendekatkan sebuah stroberi ke mulut Jun. Tanpa diminta, Jun melumat stroberi itu. Wajahnya tampak lucu. Mengunyah sambil menahan senyum.
##

”Jun, aku lulus SPMB!” Sofi berteriak pada ponsel yang dipegangnya.
”Alhamdulillah,” suara Jun di seberang, ”Dimana?”
”...” Sofi diam sejenak, ”Universitas F.”
”Di Bandung?” Jun terdengar tak percaya, ”Aha...ha...”
Lalu tawa mereka pecah. Rasa bahagia tak dapat mereka sembunyikan.
##

”Bu, ada yang mau kenalan,” Sofi diam mendengar Jun berbicara pada nisan ibunya, ”Ini Sofi, orang yang kusayang...” Jun berbalik memandang Sofi, ”Nah, sekarang udah kenal kan?” ia tersenyum. Hati Sofi miris.
Gadis itu berlutut di samping Jun yang khusuk berdoa.
Mata Sofi terpaku pada nisan bertuliskan nama Maitri itu. Rasa sedih merayap masuk ke hatinya. Ia tak tahu kenapa, tapi hatinya merasa kehilangan. Seolah dirinyalah yang ditinggal Ibu, bukan Jun. Seolah Jun sedang membagi kesedihannya pada Sofi.
”Kamu nangis?” tiba-tiba Jun menoleh. Ia sudah selesai berdoa.
”Eh,” Sofi gelagapan, ”Nggak kok,” ia tersenyum sambil menghapus air mata yang terlanjur menetes.
”Jangan nangis. Aku nggak suka,” ujar Jun tegas.
”Iya, aku tau,” Sofi memalingkan wajah, ”Jun, Ibu baik banget ya?” tanyanya tiba-tiba.
”Hmm,” jawab Jun, ”Ibu nggak pernah marah. Sabar banget...” ia memunguti guguran daun di atas makam Ibu, ”Kalo Ayah marah, cuma Ibu yang bisa bikin Ayah tenang lagi.”
”Kayaknya semua orang sayang banget ya sama Ibu,” Sofi ikut memunguti daun-daun kering.
”Ibu juga nggak pernah mengeluh, nggak pernah kelihatan sedih. Semua masalah selalu dipendam dalam hati,” Jun memandang Sofi, ”Kayak kamu.”
”Eh?” Sofi tampak kaget, ”Kata siapa?”
”Kamu tuh kebiasaan, ada masalah nggak pernah cerita,” Jun menarik tangan Sofi agar ia berdiri, ”Lama-lama, hatimu busuk lho. Terlalu banyak menyimpan masalah,” tambahnya sambil mengacak-acak rambut Sofi.
”...”
”Fi, aku nggak mau kamu kayak Ibu,” wajah Jun tampak serius.
”...” Sofi hanya diam, ”Eh, tunggu sebentar!” tiba-tiba gadis itu berbalik kembali ke ’rumah’ Ibu. Ia tampak berlutut, ”Bu, mulai sekarang aku yang akan jaga Jun. Aku janji,” ucapnya pelan.
Sofi mengelus nisan Ibu sebelum menghampiri Jun yang berdiri di gerbang kompleks pemakaman itu.
”Ngapain?” tanyanya.
”Mau tau aja...” Sofi tersenyum lalu menggandeng tangan Jun.
”Fi,” panggil Jun pelan, ”Ini pertama kalinya aku ngajak orang lain ke ’rumah’ Ibu,” Sofi tersentak.
”Aku yang pertama?” tanyanya tak percaya. Jun mengangguk.
Tiba-tiba hati Sofi terasa hangat. Ia merasa berharga dan istimewa.
”Makasih,” bisiknya sambil tersenyum. Manis.
Sofi mempererat genggaman tangannya. Mereka melangkah beriringan. Matahari senja menyelimuti.
##

”Hei, Val!” Jun menyapa Ival sambil menepuk tengkuknya dari belakang. Cara menyapa yang wajar di antara remaja laki-laki dalam keadaan ’normal’. Tapi saat itu, Ival sedang tidak ’normal’. Dia mabuk.
”Anjir! Kurang ajar lo!” Ival berteriak marah dan BUGH! Dia melayangkan kepalan tangannya ke rahang Jun.
Jun jatuh terduduk ke belakang. Yoga yang datang bersama Jun, membantunya berdiri, tapi Jun menepis tangannya. Ia ingin berdiri sendiri. Ival mengacungkan jari tengahnya ke arah Jun lalu berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
”Balas, Jun! Kok lo nggak balik mukul?” Yoga protes karena Jun membiarkan Ival pergi.
”Nggak usah,” jawab Jun pelan sambil mengelus rahangnya. Sakit. Pukulan Ival lumayan juga, ”Cari masalah aja.”
”Ah, cemen lo!” Yoga kesal. Sebenarnya ia tidak terima temannya disakiti, tapi ia juga kesal karena Jun tidak melawan, ”Pengecut!” akhirnya Yoga pun meninggalkan Jun.
...
”Menurut kamu gimana, Fi?” Jun bertanya pada Sofi yang duduk di sampingnya. Mereka sedang dalam perjalanan ke Bandung dengan bus.
”Emang kenapa kamu nggak balik mukul?” Sofi malah mengajukan pertanyaan.
”Ival tuh lagi mabuk. Dia nggak sadar udah mukul aku,” Jun membetulkan posisi duduknya, ”Kalo aku balik mukul, cuma nambah masalah. Percuma.”
”...”
”Lagian aku juga salah. Aku nepuk tengkuknya. Sebenarnya sih biasa, cuma karena dia lagi mabuk aja. Jadi emosinya nggak stabil.”
”Hmm,”
”Temanku bilang, aku cemen, nggak berani mukul Ival. Apa aku emang pengecut ya?”
”Nggak gitu juga kali,” Sofi memainkan jari-jari Jun, ”Menurutku sih, itu bukan pengecut, tapi pakai logika. Artinya, kamu bisa kontrol emosi. Nggak langsung main tangan.”
”Bukan cemen?”
”Bukan lah,” Sofi tersenyum, ”Tapi kalo aku jadi kamu, aku pasti balas mukul. Soalnya aku nggak bisa kontrol emosi kayak kamu. Hehehe...”
”Dasar jelek,” Jun ikut tersenyum.
”Tapi kamu suka kan?” balas Sofi.
Mereka terdiam sejenak.
”Tau, nggak?” Jun bersuara, ”Aku punya impian, pengen naik bus bareng istriku. Trus naik kereta, kapal laut, pesawat. Berdua.”
”Sekarang udah tercapai?” tanya Sofi pelan.
”Yah, untuk sementara ini, udah.”
##

Sofia Ismaya. Gadis yang kukenal di bus kota. Aneh, tapi aku merasa sangat mengenalnya. Padahal itu kali pertama kami bertemu. Ia tampak sederhana dan dewasa. Simpel.
Mataku tak bisa melepaskan sosoknya. Kami saling berpandangan, aku yakin. Tapi saat kami terdesak ke tengah badan bus dan berdiri berdekatan, Sofi malah menunduk. Ia diam seribu bahasa. Dan aku hanya bisa memandanginya.
Penumpang yang duduk di dekatku berdiri. Aku memandang Sofi sambil menghalangi orang lain agar tidak menempati tempat duduk yang kosong itu. Sofi melempar pandangan bertanya padaku. Aku menunjukkan sikap ”silakan duduk” dan Sofi mengerti. Ia pun duduk.
Kejadian yang menurutku lucu adalah ketika dua orang penumpang di samping Sofi, berdiri. Sofi memandangku. Hanya sekilas lalu menunduk.
Aku ingin duduk di samping Sofi. Aku mendesak beberapa penumpang dan menghampirinya. Hampir saja aku duduk di sampingnya. Tapi seorang penumpang lain lebih cepat dariku. Ia mengambil kursi tepat di samping Sofi. Dan aku harus puas duduk di kursi setelahnya.
Lama sesudah pertemuan itu, aku baru menyadari kemiripan Sofi dengan Ibu. Terutama sifat ’suka menyimpan masalah sendiri’-nya. Bedanya, Sofi lebih periang, lebih cerewet, kadang manja. Tapi mereka sama-sama complicated. Mereka tampak kuat padahal tidak.
Aku paling tidak suka melihat Sofi menangis. Sebetulnya Sofi tidak cengeng. Ia hanya ’sangat’ perasa. Sensitif. Dan aku tidak tahan melihat air mata Sofi. Apalagi jika ia menangis gara-gara aku.
##

Sofi merebahkan badannya di kasur. Lelah. Semalam ia mengikuti diklat di kampus, tanpa tidur sama sekali.
”Triiing...” SMS masuk. Dengan satu gerakan, tangan Sofi mengambil ponsel pisangnya.
Udh nyMpe kOsan? Istrht giyh. Cape kan? Btw, aq mw reNang bRg Reza. sKrg Lg d’kOs Reza.
Jun.
Ak k’kOs Reza ya. Pgn kTmu.
Kirim.
Ga. Km tU buTuh isTrht. Tidur ja.
Jun.
IsTrht bs sambiL kTmu km kan? Ak k’kOs Reza ya. Plis. Kangen. Km sibuk bgt siy, kan jarang kTmu.
Kirim.
Ga. kLo km k’sNi pun, aq ga bakaL mw kTmu km.
Jun.
Oh, yaudh. Ak bs cAri oRg Laen yg mw nEmenin ak!
Kirim.
tErserah.
Sofi melempar ponselnya, lalu tidur. Kesal.
”Triiing...” suara SMS membangunkan Sofi. Jam berapa ini? Pikirnya sambil mengerjapkan mata. Berat. Matahari sore menembus tirai jendelanya.
Met Sore. Da d’mNa? Lg aPa? Ngapain ja sHarian ni?
Jun.
Sofi tersenyum. Ternyata Jun bisa juga merasa khawatir.
D’kOsan. Br bgn tidUr. Tidur, bAngun, mAkan, tidUr Lg, soLat, tiDur, br bangUn Lg gr2 sMs dr km.
Kirim.
Ga pErgi kMana2?
Jun.
Ga.
Kirim.
Sofi tersenyum lagi. Rasa kesalnya menguap.
##

Aku tidak berpengalaman dalam menaklukkan hati ’calon mertua’. Jika ingat pertemuan pertamaku dengan Ayah dan Bunda, rasanya ingin membenamkan diri ke tanah. Malu. Aku pasti tampak konyol dan salah tingkah.
Hah? Siapa Bunda?
Begini, setelah Ibu meninggal, Ayah menikah lagi. Sekarang, keluarga Jun berjumlah enam orang: Ayah, Bunda, Jun, Jauza di kelas tiga SMA, Jihan kelas lima SD, dan Jusuf yang berusia tiga tahun.
Aku tidak berusaha membuat mereka terkesan dengan bertingkah sok baik. Aku ingin mereka mengenal diriku yang sebenarnya.
Awalnya, sangat sulit untuk bersikap ’wajar’. Jun tidak banyak membantu, sepertinya dia juga tak tahu harus berbuat apa. Untunglah, usiaku dan Jauza hanya beda satu tahun. Hal ini membuatku bisa segera akrab dengannya. Kurasa Jauza cukup simpatik.
##

”Mas, kuliah yang benar. Jangan dulu pacaran,” Jun tertegun mendengar kalimat Bunda, ”Belajar yang rajin. Jadi anak yang bisa dibanggakan orang tua.”
”...”
”Kalo kalian jodoh, toh nggak akan lari ke mana,” Bunda kembali bersuara.
##

Bu, coba Ibu masih ada. Pasti ada yang jagain Jihan. Bu, aku kangen.
Deg. Jun kaget membaca tulisan tangan Jauza. Ia sedang membolak-balik majalah Jauza dan kertas berisi tulisan itu jatuh. Sekali lagi Jun membacanya.
...Bu, aku kangen.
Hati Jun terasa sakit membaca dua kata terakhir.
...
”Emang ada apa? Kamu tanya, kenapa Za nulis kayak gitu?” Sofi mengaduk es jeruknya.
”Jihan main sama Jusuf di rumah tetangga. Pas pulang, Jusuf digendong. Trus ada anjing. Jihan takut dong! Dia lari tapi kesandung. Jatuh. Jusuf nangis kenceng banget. Sampai Bunda lari-lari keluar dari rumah.”
”Terus?”
”Ya, trus Bunda ngomel-ngomel.”
”Terus, apa hubungannya sama tulisan Za?” Sofi tampak bingung.
”Waktu itu, perhatian semua orang terpusat ke Jusuf,” Jun berhenti sejenak, ”Jusuf emang luka di jidatnya. Tapi Jihan juga luka di tangan.”
”...”
”Tapi nggak ada yang merhatiin Jihan,”
”...”
”Coba aku ada di sana,” Jun tertunduk sedih.
Sofi mengelus punggung tangan Jun. Sayang.
##

”Ka, di antara kita bertiga, Mas yang paling mirip Ibu. Sabar, penurut.” Jauza merebahkan kepalanya di paha Sofi. Mereka ada di kamar Jauza.
”Masa sih? Ka malah ngerasa, Mas mirip Ayah. Keras.”
”Iya sih. Dulu Mas keras banget. Nggak mau dengar nasihat orang lain. Kata Mas A, berarti harus A.”
”...”
”Tapi sejak Ibu meninggal, Mas jadi baik banget.”
”Mas pernah bilang, Ayah keras banget ya?” Jauza tak menjawab, ”Tapi Ka ngerasa Ayah baik kok.”
”Ayah emang keras. Kalo udah marah, suaranya kenceng banget. Semua tetangga bisa dengar. Tapi ya, sesudah Ibu nggak ada, Ayah berubah. Jadi lebih enak diajak ngobrol,” Jauza tersenyum kecil, ”Ka,”
”Ya?”
”Aku kaget waktu tau seperti apa Ka Sofi,”
”Kenapa?”
”Nggak nyangka aja. Ka Sofi sederhana banget. Nggak kayak mantan-mantan Mas yang dulu.”
”Emang mantan-mantan Mas kayak apa?”
”Mmm, tipe Marshanda deh,” ia menyebut nama salah satu artis Ibu Kota, ”Gaul, modis, body-nya OK.”
”...”
”Tapi Ka, katanya, kalo cowok suka sama cewek bukan karena fisik, itu tandanya mereka serius,” Jauza tersenyum.
”Sok tau,” Sofi ikut tersenyum sambil mengacak-acak rambut Jauza.
##

Sofi orang pertama yang bisa akrab dengan keluargaku. Ia juga perempuan pertama yang kuberitahu mengenai kehidupan pribadiku, masalah dan kondisi keluargaku.
Lebih mengejutkan lagi, karena Sofi tidak ketakutan setelah mengetahui ’sehebat’ apa suara Ayah jika ia marah. Ia mau membantu Bunda belanja dan memasak di dapur. Ia tidak canggung menyuapi Jusuf. Ia tidak risih bermain monopoli dengan Jihan. Ia juga bisa berteman dengan Jauza.
Sofi mau mengerti aku. Sepertinya, ia orang pertama yang berusaha sebegitu keras untuk memahami diriku. Ia bisa mengerti diriku jauh lebih baik dari semua teman-temanku. Aku tahu, itu tidak mudah. Terkadang aku tak tega melihatnya selalu bersedih gara-gara aku. Jika sudah begitu, aku akan berkata, ”Udahlah, Fi. Cari cowok lain yang lebih baik dari aku.”
Dan selalu, ia hanya tersenyum sambil menjawab, ”Kamu tuh cuma satu, nggak ada penggantinya.”
Padahal aku berkata begitu bukan hanya karena masalah ini saja.
##

”Kamu serius sama Sofi?” tanya Ayah tiba-tiba. Mereka sedang di bengkel.
”...” Jun tak menjawab. Ia hanya memandang ayahnya.
”Jun, jangan jadi anak yang menyusahkan orang tua dan keluarga.”
”Maksud Ayah?”
”Ayah nggak mau kamu seperti Pa’le, udah nikah tapi masih jadi beban buat keluarga.”
Jun diam. Ia tahu, Pa’le yang dimaksud Ayah adalah Pa’le Bowo. Ia menikah sebelum lulus kuliah dan belum bekerja. Mungkin ini yang dimaksud Ayah ’menyusahkan’.
”Kalo kamu mau serius, nanti aja, sesudah kamu punya penghasilan. Sesudah kamu jadi ’orang’. Jangan sekarang,”
##

”Yah, Mbah tidak tahu harus berkata apa,” Mbah Putri memandang Jun dan Sofi bergantian, ”Mbah ingin melarang kalian dengan tegas. Tapi,” ia memandang Mbah Kakung yang duduk sambil mengatupkan kedua tangannya, ”Mbah menghargai kalian yang mau datang ke sini dan menceritakan hubungan kalian. Itu artinya kalian tidak main-main.”
Hening.
”Tapi tetap, Mbah merasa kalian terlalu cepat.”
”Mungkin Sofi tidak masalah, tapi Jun...” Mbah Kakung menambahkan.
”Mbah, kita kan belum tentu akan menikah,” sela Sofi.
”Justru itu, tidak ada yang tahu, setahun ke depan perasaan kalian masih sama atau tidak,” Mbah Putri kembali bersuara, ”Karena tidak ada yang tahu, Mbah rasa kalian tidak seharusnya berhubungan.”
”Mbah melarang kalian berhubungan,” Sofi dan Jun hanya diam mendengar perkataan Mbah Kakung.
##

”Ah, be-te...” keluh Jun.
“Kenapa? SMS dari siapa?” Sofi mengalihkan pandangan dari komik yang ia baca ke ponsel Jun.
”Za...” Jun memberikan ponselnya pada Sofi.
Mas, pa kabar? K’ sofi gimana? Kpn k’sofi main lg k rmh?
”Emang SMS Za kenapa?” tanya Sofi setelah membaca SMS yang dimaksud.
”Be-te kan? Bukannya nanya kapan aku pulang, dia malah nanya kapan kamu ke rumah. Seolah kakaknya tuh kamu, bukan aku.” Jun cemberut. Sofi tertawa.
”Fi,” setelah beberapa menit, Jun kembali bersuara. Sofi menatap Jun sambil mengangkat alis, ”Kalo kamu nunggu aku, lama lho...”
”Maksudnya?”
”Kamu kan tau, aku anak laki-laki paling tua. Aku pengen bantu Ayah membiayai adek-adek. Kalo kamu nunggu aku, pasti lama banget.”
”Kenapa kita nggak nikah dulu, trus bareng-bareng bantu Ayah? Kan kalo berdua jadi lebih ringan?”
”Nggak bisa. Aku nggak mau istriku kerja. Aku pengen, istriku ada di rumah pas aku pulang kerja.”
”Ya, aku kan bisa kerja di rumah.”
”Tapi anak Ayah kan aku,”
”Sekarang, iya. Tapi kalo udah nikah, nggak. Aku juga bakal jadi anak Ayah.”
”Tapi jam kerja kamu nggak boleh melebihi jam kerjaku,”
”Hmm,” Sofi tersenyum. Puas dengan keputusan Jun.
Sementara Jun masih termenung. Sepertinya bukan hanya masalah ini yang ia pikirkan.
##

Keputusan Mbah Kakung yang melarang aku dan Jun berhubungan jelas membuatku kaget, sedikit kecewa, dan tidak terima.
”Jalani aja. Kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Yang penting kita kontrol sikap, kontrol perasaan, kontrol perkataan, kontrol hati.”
Itu yang selalu Jun ucapkan.
”Kalo jodoh, nggak akan lari ke mana.”
Itu juga yang selalu ia katakan.
Aku tahu, tapi tetap saja hatiku tak tenang. Aku juga merasa ada yang aneh belakangan ini. Sikap Jun berubah. Sulit mendeskripsikan perubahan Jun, tapi aku yakin dia berubah. Ada yang Jun sembunyikan dariku.
##

”Jun,” panggil Mbah Kakung.
”Dalem, Mbah...”
”Sini, Mbah mau bicara sama kamu.” Jun patuh. Ia duduk di kursi sebelah Mbah Kakung.
”Kamu masih berhubungan dengan Sofi?”
”Iya, Mbah.”
”Jangan, Jun. Jangan Sofi. Cari yang lain saja.”
”Kenapa?”
”...”
##

Aku menyayangi Sofi. Tapi selalu saja, aku merasa Sofi jauh lebih menyayangiku. Aku tak kuat menanggung harapan yang ia taruh di pundakku. Sering aku berkata, ”Jangan terlalu bergantung padaku”. Tapi ia tetap begitu.
Apa jadinya Sofi jika aku tak ada lagi di sampingnya?
Aku tak bisa membayangkan sehancur apa hatinya jika aku meninggalkannya, seperti yang disarankan Mbah Kakung, Bunda, bahkan Ayah.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Aku tahu, semua yang mereka katakan itu demi kebaikanku. Mereka tidak mungkin menyarankan sesuatu untuk mencelakakanku. Tapi bagaimana dengan Sofi?
##

”Apa?” Sofi tak percaya pada pendengarannya sendiri, ”Kamu bercanda kan?”
”Nggak. Aku serius. Kita putus,”
”Kenapa?”
”...”
”Mbah?”
”Ya,”
”Tapi kita udah sepakat untuk tetap bertahan,”
”Aku percaya, yang mereka sarankan adalah yang terbaik buatku,”
”Kan ada aku. Kamu nggak sendirian menghadapi Mbah, Ayah ataupun Bunda.”
”...”
”Jun?”
Ia menggeleng.
”Setelah semua yang kita lewati, Jun?”
Jun tetap menggeleng.
”Kamu masih menyayangiku?”
Jun menatap Sofi, lalu melempar pandangan ke samping.
”Sayang, tapi tidak lebih dari seorang teman.”
”...”
”Maaf,”
Hari itu, langit runtuh untuk Sofi. Tapi Sofi tidak pernah tahu, langit milik Jun telah hancur berkeping-keping, jauh sebelum ia memutuskan untuk berpisah dengan Sofi.
##

Aku pernah menyayangi seseorang lebih daripada aku menyayangi diriku sendiri. Aku bersandar padanya dan mencoba menjadi sandaran yang baik baginya. Aku berusaha memahami hatinya. Aku berjalan di sampingnya. Aku tersenyum untuknya. Aku melupakan egoku di hadapannya.
Ia membuatku jadi perempuan paling bahagia sekaligus menderita karena rasa rindu, cemburu, dan takut kehilangan. Ia bilang rasa itu indah. Dan aku menikmatinya. Menikmati setiap jalan yang kami lalui. Menikmati setiap kerikil yang kami hadapi. Menikmati setiap tawa dan tangis.
Meski pada akhirnya, aku tetap kehilangan. Karena ia memilih untuk memercayai apa kata orang daripada kata hatinya. Ia lebih percaya bahwa yang terbaik adalah yang mereka sarankan, bukan yang ia pilih untuk dijalani dan dibuktikan sendiri. Karena ia tidak memiliki cukup kesiapan untuk berbagi denganku.
Aku kehilangan, kecewa, tapi tidak merasa marah.
Sepenuhnya aku memahami dan menerima keputusannya.
Aku percaya padanya. Aku yakin ia menyayangiku seperti juga aku menyayanginya. Hanya saja dinding yang ia bangun terlalu tinggi untuk kulewati. Terlalu tebal untuk kutembus.
Setelah semua usaha kulakukan, ia tetap memilih untuk pergi. Setelah semua yang kita lewati, ia tetap memilih untuk berpaling.
Aku terluka. Jauh di dalam hatiku, aku menangis.
Aku tak ingin lagi merasa kehilangan. Karena itu aku membangun tembok di sekeliling hatiku. Aku tak akan membiarkan seorang pun masuk dan tinggal di hatiku.
##

Aku jatuh cinta pada sosok perempuan yang entah kenapa, terasa berbeda. Ia tidak cantik, tidak feminin, tidak seperti perempuan kebanyakan. Tapi ia hangat, lembut, dan sederhana.
Aku menikmati perjalananku karena bersamanya. Ia tersenyum, maka lelahku menghilang. Ia tertawa, maka gundahku sirna. Ia memandangku, maka aku merasakan rasa sayang yang luar biasa.
Ia satu-satunya orang yang memahamiku. Ia bisa mengerti diriku lebih baik dari semua orang yang pernah mengenalku.
Aku menyayangi setiap kelebihan dan kekurangannya seperti ia menyayangi setiap kelebihan dan kekuranganku.
Meski pada akhirnya, aku meninggalkannya. Aku memilih untuk memercayai mereka. Karena aku yakin, apa yang mereka katakan adalah yang terbaik untukku. Juga untuknya.
Aku tergugah saat mengetahui ia tetap memercayaiku seperti saat kami masih bersama. Ia tetap memercayaiku meskipun aku telah membuatnya terluka.
Terima kasih.
Tapi aku tak bisa memilih ’dia’ yang belum tentu akan selamanya bersamaku.
Biarlah waktu yang akan menunjukkan ke mana kita akan berjalan.

(Read More..)

Menunggu Angin

.

oleh
Mujahidah Shafiya

Dahulu kala,
hidup seorang gadis bernama Putri Sofi. Ia tinggal di sebuah rumah mungil yang indah. Semua orang mencintai Putri Sofi karena kecantikan dan kebaikan hatinya. Putri Sofi tak pernah sombong. Ia selalu ramah pada siapapun. Bahkan pada Rumput, Batu, Pasir, Laut, Pohon, Kumbang, dan semua yang ada di Bumi.
Suatu hari,
datang empat kekuatan besar. Mereka adalah Angin, Hujan, Langit, dan Awan. Mereka berempat jatuh cinta pada Putri Sofi. Maka empat kekuatan itu mulai memperebutkan dirinya. Mereka menggunakan setiap kelebihan yang mereka miliki untuk mendapatkan hati Putri Sofi. Langit selalu mengiringi Putri Sofi. Hujan selalu memagari Putri Sofi dari terik Matahari. Awan selalu menghalangi Panas agar tidak menyakiti Putri Sofi. Angin selalu berhembus di dekat Putri Sofi.
Tetapi Bumi menjadi kacau.
Tiap kali Putri Sofi datang, Angin, Hujan, Langit, dan Awan langsung menghampiri. Angin tak mau berhenti berhembus, Hujan tak mau berhenti turun, Langit ingin selalu siang, dan Awan selalu menutupi Bumi.
Lambat laun, Putri Sofi sadar, ia yang menimbulkan kekacauan di Bumi. Ia berpikir keras, bagaimana cara menghentikannya. Lalu Putri Sofi mengajukan permohonan pada empat kekuatan itu sebagai bukti cinta mereka padanya. Ia berkata, ”Jika kalian masih mencintaiku, Langit hanya boleh mengiringiku, Hujan harus menderasi tubuhku, Angin harus berhembus keras di dekatku, dan Awan harus menyelimutiku...”
Mereka berempat memenuhi permintaan Putri Sofi. Terus-menerus dan tanpa henti. Lama-lama tubuh Putri Sofi melemah. Sampai suatu ketika, Putri Sofi meninggal. Ia terbunuh oleh cinta dari empat kekuatan besar itu.
Angin, Awan, Langit, dan Hujan berduka. Tetapi mereka sangat mencintai Putri Sofi. Akhirnya mereka berjanji tidak akan mengacaukan Bumi lagi. Mereka berjanji akan menggantikan Putri Sofi yang selalu membantu teman-temannya, yaitu Manusia.
---------------------------------------------------



Tiba-tiba aku terbangun. Aku duduk dan menatap sekeliling. Huff, ini kamarku. Sambil bersandar di dipan, aku mengingat kembali mimpiku barusan. Aku tak mengerti, kenapa belakangan ini aku sering memimpikan Ibu. Di dalam mimpiku, Ibu duduk di samping tempat tidur dan membacakan Legenda Putri Sofi. Persis seperti yang selalu Ibu lakukan setiap malam, sebelum ia meninggal. Tapi itu sudah lama sekali.
Aku ingat ketika kecelakaan merenggut nyawa Ayah dan Ibu. Umurku baru delapan tahun. Reyn dan Ayla, kakak-kakakku, bergantian memelukku sambil menangis. Lalu Reyn berkata, ”Mai, Ayah dan Ibu pergi ke surga”.
Sejak saat itu, Reyn menjadi kakak sekaligus ayah. Usia kami hanya terpaut empat tahun, tapi Reyn tampak begitu dewasa di mataku. Aku menyayangi dan menghormati Reyn. Begitu juga Ayla. Ia kakak perempuan yang baik. Meskipun ia tidak pernah bisa menggantikan Ibu di hatiku.
Setelah Ayah dan Ibu meninggal, kami tinggal bersama Eyang Putri. Rumahnya besar sekali. Terlalu besar malah. Aku tak begitu betah tinggal di rumah sebesar itu. Oleh karena itu, ketika Reyn lulus kuliah, aku mengusulkan untuk pindah ke rumah Ayah dan Ibu. Seperti biasa, Reyn mengabulkan keinginanku.
Sudah setahun kami tinggal di sini. Aku kembali menempati kamarku sewaktu kecil. Begitu juga Reyn dan Ayla. Sementara kamar Ayah dan Ibu kami sulap menjadi ruang kerja Reyn.
Kurasa, kami cukup bahagia. Setidaknya, kami tak kekurangan uang dan tidak terpisah satu sama lain. Reyn melarang aku dan Ayla kuliah di luar kota. Mungkin karena ia merasa lebih baik kami tetap tinggal di bawah satu atap.
Aku membuka laci meja di samping tempat tidurku. Laci paling bawah. Tangan kiriku mengambil buku tebal yang warnanya telah memudar dimakan usia. Kunyalakan lampu. Seketika kamarku menjadi terang. Aku bisa membaca tulisan di sampul buku yang kupegang.
”Legenda Putri Sofi...” ujarku pelan. Sementara malam menjelang fajar.


”Nina,” aku berjalan cepat menghampiri Nina, sahabatku.
”Baru datang?” tanya Nina pelan. Ah, suaranya memang selalu pelan. Aku tak pernah mendengar Nina berbicara dengan suara keras.
”He eh,” aku menyejajarkan langkahku dengannya, ”Kita kuliah di ruang mana?”
”Lima, tiga, dua tujuh...” maksudnya, gedung lima, lantai tiga, ruang dua puluh tujuh.
”Hai, Maia...” seseorang menyapaku. Aku spontan tersenyum dan balik menyapa. Meskipun, jujur saja, aku tak tahu nama orang yang menyapaku barusan.
...
Aku tersenyum melihat Maia berlari kecil menghampiriku. Ia tampak seperti bidadari. Rambut panjangnya terurai lurus. Kulitnya mulus, kuning langsat seperti seharusnya orang Indonesia. Hidung mancung. Bibirnya merah alami dengan deretan gigi yang rapi. Maia cantik. Ia bersinar. Semua orang menyukai Maia. Mungkin karena ia ramah dan selalu menebar senyum pada siapapun. Sosok perempuan sempurna.
Berjalan di samping Maia berarti menerima berjuta perhatian. Tak heran, karena semua orang di kampus mengenal Maia. Tepatnya mengagumi. Sepanjang jalan, hampir semua orang menyapa Maia. Seperti sekarang ini,
”Hai, Maia...” seseorang menyapa Maia.
”Ah, hai...ke mana?” Maia tersenyum dan balik menyapa orang itu.
”Ke kelas,”
”Oh, duluan ya...” Maia berlalu.
”Kamu kenal, Mai?” tanyaku.
”Nggak,” jawabnya ringan sambil mengangkat bahunya asal. Ah, bahkan ketika mengangkat bahu pun, ia tampak memesona. Aku hanya geleng-geleng kepala. Tak mengerti kenapa Maia begitu mudah melempar senyum.


Aku dan Nina masuk ke kelas. Aku duduk di samping Awan, sahabatku yang lain, sementara Nina duduk di sebelah kananku.
”Nih, DVD Avatar yang kamu pesen...” aku menyerahkan bungkusan yang kubawa pada Awan. Si penerima langsung menegakkan duduk.
”Hehe, makasih, Mai!” ujarnya sumringah.
Aku hanya tersenyum memerhatikan tingkah Awan yang memasukkan bungkusan itu ke dalam tas dengan hati-hati, seolah ia sedang memegang berlian.
Ardiawan. Aku tak mengerti kenapa ia lebih suka dipanggil Awan. Padahal aku ingin memanggilnya Ardi. Sejak menjadi anggota kelas ini, aku sudah menaruh perhatian padanya. Ia berbeda dari kebanyakan orang di kampus.
Sementara teman-teman yang lain menghabiskan waktu senggang dengan hura-hura atau hang out bareng, Awan justru lebih suka nonton film kartun. Kalau cowok lain sangat takut dikatakan melankolis, Awan justru suka menulis puisi.
Aku pernah mendapati Awan berdiri di tengah lapangan kampus. Hanya berdiri sambil menengadah ke langit. Padahal saat itu hujan deras. Waktu kutanya alasannya, ia tersenyum lalu menuliskan sesuatu. Ia menulis, ”Karena aku awan. Aku bertemankan hujan”.
Awan kekanak-kanakkan. Sedikit konyol memang. Mengingat usianya hampir kepala dua. Tapi menurutku, pemikirannya sama sekali jauh dari sifat kekanak-kanakkan. Awan juga jauh lebih peka dari semua cowok yang pernah kukenal. Ia menyejukkan. Benar-benar seperti awan.
Lebih dari itu, ada dua hal yang membuatku betah bersama Awan beberapa bulan terakhir ini. Ia tidak pernah berusaha memikatku. Ia tidak mengagumiku lebih dari seorang teman. Tidak seperti cowok lain. Dan satu lagi, ia bisa akrab dengan Reyn, kakakku.
...
Sudah hampir setahun gue mengenal Maia, gadis cantik dan periang. Maia yang lembut, santun, dan ramah. Kita berdua nggak pernah saling kenal sebelumnya. Tapi, BUMM! Dalam waktu beberapa bulan, gue menjelma jadi sahabat Maia.
Sebenarnya bukan kebetulan kalau sekarang gue adalah salah satu orang terdekat Maia. Lo kenal Abi? Ah, siapa yang tak kenal Abi. Seperti juga tak mungkin jika ada orang yang tak kenal Maia di kampus ini.
Abi, cowok idaman setiap cewek. Dengan modal badan atletis dan wajah tampan, Abi berhasil merebut perhatian hampir semua cewek, KECUALI Maia. Ya, MAIA. Ia tak pernah bisa membuat Maia bertekuk lutut padanya. Memang apa kekurangan Abi?
Dan akhirnya, gue ”diutus” Abi untuk menjadi Mas Cupid. Gue sahabat Abi sejak SMA. Semua orang tahu itu (mungkin). Gue sekelas dengan Maia. Dan muka innocent gue lolos sensor untuk mendekati Maia.
Awalnya, gue pikir Maia hanya cewek cantik yang manja dan kolokan seperti kebanyakan cewek cantik lain. Tapi ternyata gue salah. Maia berbeda. Dia nggak pernah mengeluh. Apapun yang terjadi, Maia selalu tersenyum. Seolah-olah, ia memang dilahirkan dengan bibir yang membentuk senyuman malaikat.
Rasa kagum gue bertambah saat mengetahui kalau Maia yatim piatu. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Sekarang ia tinggal dengan dua orang kakaknya.
Di mata gue, Maia begitu polos. Ia tak pernah menyadari dirinya dikagumi semua orang. Bahkan gue nggak yakin Maia tahu kalau dirinya cantik.
Gue nggak pernah merencanakan untuk terpikat pada gadis impian sahabat gue sendiri. Tapi kita tidak berdaya untuk mengatur kepada siapa kita jatuh cinta kan?


Abi berdiri di depan kelas Maia. Seperti biasa, ia menunggu gadis itu untuk mengajaknya pulang bersama. Abi melirik jam di tangannya. Sepuluh menit lagi. Ia menghembuskan napas.
Sambil bersandar ke dinding, Abi menatap Maia dari balik pintu yang di tengahnya ada kaca tembus pandang. Ia tak habis pikir, kenapa sampai sekarang Maia belum juga merespon perasaannya. Padahal Abi sudah mengerahkan segala pesona yang ia miliki untuk meluluhkan hati Maia. Tapi?
Kadang-kadang Abi merasa usahanya sia-sia. Ia ingin menyerah saja. Tapi setiap kali melihat Maia, hatinya seolah bertetap untuk tak segera putus asa. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk mendapatkan Maia. Hehe.
...
Maia segera memasukkan organizer kesayangannya ke tas ketika Bu Yesi, dosen Sosiologi Komunikasi, menutup pertemuan hari itu. Sambil bercanda, ia, Nina, dan Awan meninggalkan kelas.
”Hei, Bi!” Maia mendengar Awan memanggil seseorang. Ia mengikuti arah pandangan Awan dan bertemu mata dengan Abi. Refleks, bibirnya menyunggingkan senyum. Abi balas tersenyum padanya.
”Mau jemput Maia, ya?” Awan meledek Abi. Sementara Nina hanya diam memerhatikan, ”Nggak boleh. Hari ini Maia pulang bareng gue dan Nina...”
Maia menyikut pinggang Awan. Yang disikut langsung berteriak histeris, mendramatisir.
”Iya, iya...” Awan memasang wajah cemberut, jelas dibuat-buat, ”Gih, sana! Pulang bareng pangeran lo...” ia mendorong punggung Maia sehingga gadis itu berdiri di samping Abi. Wajahnya bersemu merah, begitu juga dengan wajah Abi.
Satu hati meradang melihat Maia bersanding dengan Abi.


”Arrgh...kenapa dia harus pulang dengan Abi?” aku berteriak marah di kamar kosku.
Masih dengan perasaan kesal, aku melempar tubuhku ke kasur. Aku berbaring diam. Bagaimana ini? Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada Maia. Jantungku selalu berdebar tak keruan setiap kali melihat Maia tersenyum.
Maia, Maia, Maia. Hanya nama itu yang memenuhi pikiranku. Maia harus jadi milikku.
Aku mengambil foto Maia yang terbingkai rapi di meja. Aku menatap foto itu lalu menciumnya. Aku memeluk foto itu seolah sedang memeluk Maia, sampai aku tertidur.


Entah kenapa, aku selalu kehilangan kata-kata jika berada di dekat Abi. Mungkin karena aku sadar, Abi memerhatikanku lebih dari seorang teman.
Hampir setiap hari, Abi mengantarku pulang dengan motor Thunder-nya. Padahal rumah kami berbeda arah. Aku terharu dengan pengorbanan Abi. Tapi aku tetap tidak bisa menerima Abi sebagai sosok yang istimewa di hatiku.
Aku mengagumi Abi. Tampan, cerdas. Tindak-tanduknya tenang dan penuh perhitungan. Abi dewasa. Ia membuatku merasa aman setiap kali bersamanya. Ia seorang yang sempurna dan tak bercacat. Hanya satu kekurangan Abi: terlalu sempurna. Dan hal ini yang membuatku sulit menerima Abi.
Meskipun begitu, aku tidak bisa meminta Abi berhenti mencurahkan perhatian padaku. Rasanya kejam sekali jika aku tidak memberi Abi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Lagipula Abi tak pernah kurang ajar padaku. Ia selalu bersikap santun.


Aku berhenti menulis ketika mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Pasti Maia pulang diantar pemuda itu lagi. Aku mengintip dari jendela ruang kerja yang langsung menghadap halaman depan.
Maia turun dari Thunder Abi. Ia tak langsung masuk ke rumah. Maia berdiri memunggungi jendela sehingga aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Mereka tampak berbincang-bincang. Beberapa kali aku melihat Abi tersenyum pada Maia. Seandainya aku bisa mendengar percakapan mereka.
Jujur saja, aku tak pernah suka jika ada lelaki yang mendekati Maia. Rasanya, tak ada lelaki yang cukup layak untuk bersanding dengan adikku. Setiap kali Maia tampak akrab dengan seorang lelaki, aku pasti langsung mencari seribu satu alasan agar Maia menjauhinya.
Begitu juga dengan Abi. Aku bukannya tidak pernah berusaha menjauhkan Maia dari Abi. Hanya saja, aku tak menemukan satu pun kelemahan yang bisa kujadikan alasan untuk memperkuat argumenku.
Aku tahu, Maia sangat percaya padaku. Apapun yang kukatakan, pasti ia patuhi. Tapi aku harus berhati-hati. Maia bukan lagi anak ingusan yang akan menuruti semua perkataanku. Lagipula aku tak mau Maia menganggapku mengekang kebebasannya. Lebih baik aku bersabar.
...
Sepanjang perjalanan menuju rumah Maia, aku lebih banyak diam. Aku tak mengerti, bagaimana bisa aku begitu ’pendiam’ saat bersama Maia. Bisa-bisa, hubungan kami hanya akan berakhir sebagai Putri dan Kusir Kereta Kuda.
Aku menghentikan motorku tepat di depan rumahnya. Maia turun. Kupikir, ia akan langsung masuk ke rumah seperti biasanya. Tapi dugaanku salah. Gadis itu malah berdiri di sampingku.
”Kenapa, Mai?” tanyaku heran.
”Mmm, nggak pa-pa...” ia terdiam. Aku melihat rona merah mulai menjalar di pipinya. Aku tersenyum. Tampaknya Maia gugup.
”Harus aku antar sampai ke pintu?” godaku.
”Eh, nggak perlu...makasih...” Maia terkejut mendengar pertanyaanku.
Aku tersenyum lagi. Kesempatan, pikirku.
”Jalan, yuk!”
”Eh?”
”Jalan-jalan. Berdua.” Maia terdiam sesaat.
”...boleh...” Yes, teriak hatiku.
”Kalo gitu, besok jam empat sore, aku jemput kamu. Gimana?”
”Hmm,” jawabnya singkat.
”Masuk, gih! Aku pulang dulu ya...” aku menunggu sampai Maia menghilang di balik pintu, baru kuajak Thunder-ku beranjak dari tempat itu.
...
Aku menutup pintu rumah tapi tak segera masuk ke kamar. Aku mengintip Abi dari jendela. Ia masih duduk di atas Thunder-nya sambil menatap pintu rumahku. Sepertinya, ia menunggu sampai aku benar-benar masuk ke rumah, baru pulang. Tak lama, aku melihat Abi memakai kembali helm yang tadi dilepasnya lalu berlalu dari halaman rumahku.
”Huff...” aku menghembuskan napas lega. Jantungku tak mau berhenti berdebar kencang setiap kali bersama Abi.
”Cieee...dianter sama siapa nih?” aku mendongak. Ayla tampak berdiri di ujung atas tangga sambil tersenyum menggoda.
”Aaaahhh!!!!!” aku berteriak, ”Kamu ngintip ya?” aku tak pernah memanggil Ayla dengan panggilan ’kakak’. Toh, usia kami hanya beda empat belas bulan.
”Hahahaha...Mai kecil cudah dewaca ya...” ledek Ayla sambil menghambur ke kamarnya. Aku berlari menaiki tangga, mengejar Ayla. Begitu berhasil menangkap Ayla, aku menghujaninya dengan kelitikan paling jitu.
Setelah lelah bermain kejar-kejaran, aku berbaring di tempat tidur Ayla.
”Ay, menurut kamu, Abi gimana?” aku memandangi Ayla yang juga berbaring di sampingku.
”He looks nice,” ujarnya singkat.
“Besok dia ngajak jalan,”
”Serius, Mai?” Ayla bangun, ”Berarti ini kencan pertama kamu...” aku mengangguk, ”Reyn masih ngelarang kamu deket sama cowok?” tanya Ayla pelan.
”Kita belum pernah ngebahas masalah ini lagi...”
”Yah, mudah-mudahan Reyn ngizinin kamu jalan bareng Abi.”
Kami berdua terdiam.


Baru kali ini aku bertengkar dengan Reyn. Aku tak pernah melihatnya begitu marah padaku. Dan aku tak mengerti, kenapa ia sangat marah waktu kubilang, aku tetap ingin pergi bersama Abi sekalipun Reyn melarangku.
Selama ini, aku tak pernah membantah jika Reyn melarangku bergaul dengan kaum Adam. Aku tahu, Reyn melakukan itu untuk menjagaku. Agar aku tidak disakiti. Tapi kali ini Reyn keterlaluan. Aku sudah cukup dewasa. Reyn tidak berhak mencampuri urusan pribadiku.
...
”BRAKK!!” aku menggebrak meja. Baru kali ini Maia menentang keputusanku. Dan kenapa aku begitu marah karena Maia ngotot ingin pergi dengan laki-laki lain?
Tunggu! Laki-laki lain? Aku tertegun menyadari ada sesuatu yang janggal pada suara hatiku itu.
Tidak. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Sejak aku mengetahui hal itu, aku telah bersumpah akan menjaga Maia sebagai ’kakak’. Aku tidak akan menjadi ’laki-laki’ bagi Maia. Aku hanya akan menjadi ’kakak’.
Aku menggelengkan kepalaku lalu membuka laci meja. Kuambil map berwarna hijau dari dalam laci. Kubuka dan kubaca. Di baris ketiga tertulis nama Maia Widyana. Di kolom berikutnya, masih di baris yang sama, tertulis dua kata: anak angkat.


Sudah hampir satu jam aku duduk di ruang tamu rumah Maia. Tidak. Maia tidak ada. Aku duduk berhadapan dengan Reyn dan Ayla, kakak Maia. Jujur, aku bingung. Aku merasa seperti menjalani sidang dengan dua orang hakim.
Aku tak tahu bagaimana ekspresi mukaku saat Reyn membukakan pintu. Ia langsung menyambut kedatanganku dengan pertanyaan. Intinya dia ingin tahu, ke mana Maia? Jelas aku bingung. Aku datang ke rumah ini kan untuk menjemput Maia. Kalau Maia pergi sebelum aku datang, aku tak tahu dia ke mana.
Aku seperti orang bodoh. Hanya duduk di ruang tamu. Tak bicara sepatah kata pun. Seharusnya malam ini aku bersenang-senang dengan Maia. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Tiba-tiba pergi dari rumah dan membuat keluarganya kalang kabut.
Tapi aku tak ingin menunjukkan kegelisahanku di depan kedua kakak Maia, terutama Reyn. Aku berusaha bersikap tenang. Aku juga tetap bicara dengan nada datar.
...
Aku benar-benar terkejut saat Ayla masuk ke ruang kerja sambil berteriak panik, ”Maia hilang!”
Sel-sel otakku langsung dikuasai marah dan panik sekaligus. Marah karena kupikir, Maia pergi menemui Abi tanpa sepengetahuanku. Panik karena Maia tak pernah begini sebelumnya. Maia bukan orang yang emosional. Gadis itu tak pernah bertindak sembarangan.
Aku terkejut untuk kedua kalinya saat Abi datang ke rumah tanpa Maia. Ia datang sendiri dan bermaksud menjemput Maia. Aku bisa melihat kebingungan di mata Abi saat mendengar Maia tak ada. Tapi hanya sekejap, karena ia segera menguasai diri.
Sekarang aku, Ayla, dan Abi duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Hening. Aku jadi punya kesempatan untuk menilai pemuda di hadapanku ini.
Hmm, sosok atletis dan tampan. Matanya tampak cerdas. Sikap Abi tenang dan mengawasi. Sangat dewasa untuk usia yang baru menginjak dua puluh. Pantas Maia tertarik pada Abi.
Tak urung, sebersit cemburu menyelusup di hatiku.
...
Aku benar-benar panik waktu menyadari Maia tak ada di rumah. Reyn pun tak kalah panik dariku. Tadinya, kami mengambil kesimpulan kalau Maia pergi menemui Abi. Tapi begitu Abi datang ke rumah sendiri, kami sadar Maia tidak bersama Abi. Lalu dia ke mana?
Akhirnya, kami bertiga hanya duduk diam di ruang tamu. Menunggu Maia pulang. Sesekali aku mencuri pandang ke arah Abi. Ini pertama kalinya aku bertemu muka dengan Abi.
Tampan. Hatiku tersenyum.
Abi begitu tenang. Ia seperti langit yang tampak ’diam’ dan ’menunggu’. Abi tidak bicara kecuali menjawab pertanyaan Reyn. Ia juga tidak memperlihatkan rasa gentar saat menatap mata Reyn. Padahal semua orang selalu menghindari tatapannya. Mata Reyn bisa menembus hati, seperti hujan yang membasahi bumi sampai ke dasarnya.
Oh, tidak! Aku segera menyadarkan hatiku yang terpesona pada Abi. Ini gila. Maia menyukai Abi. Begitu juga sebaliknnya. Aku tak boleh jatuh cinta pada Abi.
Hhh, kenapa aku dan Maia begitu berbeda? Maia cantik dan disukai semua orang. Sementara aku biasa-biasa saja. Aku juga tak begitu pandai bergaul. Maia menyedot perhatian semua orang termasuk Ayah, Ibu, dan Reyn. Jujur saja, aku iri. Tapi aku berusaha menganggapnya sebagai satu hal yang wajar. Karena Maia layak memperoleh semua itu.
Dan Abi adalah ’langit’. Ia layak bersanding dengan Maia.


Aku berjalan tak tentu arah. Aku sendiri tak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ada dorongan yang begitu kuat untuk pergi dari rumah. Aku hanya tak ingin berada di rumah. Aku tak ingin berada di dekat Reyn.
Akhirnya aku duduk di gazebo depan Gedung Sate.
”Matahari sudah terbenam sejak tadi. Kau menunggu di sini pun percuma. Langit tak akan berubah jadi terang...” seseorang berbicara di belakangku.
Aku langsung berbalik kegirangan, ”Awan, kok ada di si...ni...” aku terdiam begitu menyadari orang yang ada di belakangku bukan Awan. Aku tak tahu siapa dia. Maka aku hanya diam. Malu.
”Kenapa diam?” lelaki itu mendekatiku. Aku ingin menjauh, tapi badanku menolak. Sepertinya ada sesuatu yang membuatku yakin kalau ia tidak jahat.
Cahaya bulan menyinari wajahnya. Aku bisa melihatnya tersenyum. Senyum yang indah. Ringan, tanpa beban. Aku terhanyut dan ikut tersenyum.
”Kamu cantik...” ujarnya ringan. Aku tersipu. Senyumku semakin lebar.
”Kenapa hanya ada sedikit bintang di langit?” tanyanya tiba-tiba. Aku menengadah ke langit. Hampir tak ada bintang yang tampak tapi aku tak tahu sebabnya. Aku menggeleng sambil menatap lelaki itu. Ia balik menatapku, masih tersenyum.
”Karena bintangnya sudah pindah ke matamu...” aku terdiam. Detik berikutnya, aku tertawa. Ya, tertawa! Aku sendiri heran. Padahal selama ini aku jarang sekali tertawa.
Setelah itu, kami duduk berdampingan layaknya kawan dekat. Ia bercerita tentang banyak hal, aku tertawa. Sesekali aku menanggapi ceritanya atau balik bercerita. Aku tak tahu ia bosan atau tidak dengan ceritaku, tapi ia tampak mendengarkan. Sampai akhirnya lelaki itu mengantarku ke kos Nina. Aku tak ingin pulang ke rumah.
Kami berdiri berhadapan. Tanpa suara. Rasanya berat sekali untuk berpisah dengannya.
”Eh...” aku mencoba bersuara, tapi tak bisa.
”Apa?” ia tersenyum.
”Nggak,” aku menunduk, ”Bukan apa-apa...”
”Ah, apaan sih...ngomong tapi nggak jadi!” ia merajuk.
”Yaudah, anu...” aku terdiam lagi.
”...??”
”Nggak jadi deh,” aku berbalik tapi...
”Aku mau tanya, namamu siapa?” akhirnya aku berani mengajukan pertanyaan itu. Ia kembali tersenyum, kali ini lebih lebar.
”Nah, gitu dong...” ia berhenti sejenak, ”Namaku Angin.”
”Eh?”
”Kata lain dari Bayu,” aku menatap Bayu, ”Kamu?”
”Maia,”
Aku merasa wajahku memanas.


Aku mendengar jantungku berdetak kencang saat dia masuk ke kamar. Ia tampak begitu cantik malam ini. Rambutnya tergerai indah. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya karena dia hanya memakai kaos tipis dan celana selutut.
Seperti biasa, ia tersenyum manja padaku. Ia bahkan meletakkan kepalanya di pahaku. Aku membelai rambutnya. Dan setiap kali aku menyentuhnya, ada sensasi aneh menjalar di tubuhku.

01.46 WIB.
Jantung gue hampir copot saat nama Maia muncul di layar ponsel gue. Sudah hampir jam dua pagi. Ada apa?
Buru-buru gue mengangkat ponsel.
”Halo, Mai! Ada apa?” tanya gue.
Tidak ada jawaban. Hanya suara gaduh yang tak jelas.
Gue heran, kenapa Maia menelepon tapi tidak bicara.
Tiba-tiba gue mendengar jeritan di seberang. Gue yakin itu suara Maia.
“Mai! Halo! Mai, lo kenapa? Mai?” gue berteriak panik sambil memegang ponsel erat.
“…lepasin, Na…” samar-samar, gue bisa mendengar Maia bicara pada seseorang.
”Mai, lo kenapa?” gue kembali bicara.
”...lepasin aku!!” lagi-lagi gue mendengar Maia bicara, tepatnya berteriak, pada seseorang. Dari nada suaranya, gue merasa Maia marah, jijik sekaligus takut.
Sekali lagi, Maia menjerit. Lalu,
”Awan, tolong!! Nina nyerang aku! Tolong aku, Wan!!!” kali ini suara Maia terdengar jelas. Sepertinya ia memencet tombol loudspeaker. Maia berteriak ke gue. GUE??
”Lo di mana?” gue ikut berteriak.
”Kos Nin...tuut...tuut...” telepon terputus.
Sial! Gue langsung melompat dari tempat tidur. Gue ambil kunci motor dan keluar dari kamar. Setengah berlari, gue menuruni tangga. Gue buka pintu garasi lalu memacu motor gue ke kos Nina.
Kalau benar Maia ada di kos Nina, berarti dia dalam bahaya!


Aku merasa ada tangan yang menggerayangi tubuhku. Setengah sadar, aku bergidik. Geli sekaligus jijik. Lalu bibirku dikecup pelan, lembut. Aku tersentak dan membuka mata.
”Nina?” aku menjauhkan wajahku dari wajah Nina yang menunduk di atas wajahku, ”Apa-apaan ini?” aku syok. Pasti aku bermimpi. Tak mungkin Nina melakukan semua ini padaku.
”Tenang, Mai...” ia berkata pelan. Aku melihat Nina tampak tegang, ”aku bisa menjelaskan semuanya...” ia mencoba memegang tanganku.
Aku menghindari tangannya lalu mundur. Posisiku tidak menguntungkan karena pintu ada di belakang Nina. Aku tak mungkin berdiri dan berlari keluar. Aku terus mundur sampai tanganku menyentuh sesuatu di balik punggungku. Ponsel.
Sambil tetap menatap Nina, diam-diam aku mencoba menekan tombol angka dua di ponselku. Speed dial untuk Awan. Dalam hati aku berharap Awan mengangkat ponselnya.
Tiba-tiba Nina menerjang tubuhku. Ia mencoba menciumku lagi. Aku menjerit dan berusaha mendorong Nina dengan tangan. Tapi tangan kananku menggenggam ponsel, sedangkan Nina memegangi tangan kiriku. Dengan mudah, Nina menindih badanku.
”Lepasin, Na...” ucapku memohon padanya. Tapi Nina tidak mengacuhkanku. Aku benar-benar merasa jijik sekaligus takut, ”Lepasin aku!!” teriakku marah.
Lalu aku teringat pada ponsel yang masih kugenggam erat. Aku menekan tombol loudspeaker,
”Awan, tolong!! Nina nyerang aku! Tolong aku, Wan!!!” aku berteriak sekuat tenaga. Nina kaget dan berhenti menggerayangi tubuhku. Aku terdiam.
”Lo di mana?” suara Awan terdengar dari ponselku.
”Kos Nin...” aku belum selesai bicara ketika Nina pulih dari rasa kagetnya. Ia merebut ponselku dan melemparnya ke sudut ruangan. Aku bisa melihat benda itu mendarat sempurna dan hancur berantakan.
Badanku lemas. Tuhan, tolong aku!


Rumah Maia. Tiga jam sebelumnya.
Aku mengantar Abi sampai ia menaiki Thunder dan meninggalkan rumah. Ia tampak lelah. Berjam-jam kami menunggu Maia pulang tapi sia-sia. Aku sudah menghubungi ponselnya, tapi panggilanku selalu dialihkan.
Setelah Abi berbelok di ujung jalan, aku kembali masuk ke rumah. Aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Reyn sudah tak ada di ruang tamu. Mungkin ia di kamar atau di ruang kerja.
Aku mengangkat cangkir-cangkir kotor dari meja ruang tamu. Kubawa ke dapur lalu kucuci sampai bersih.
Kakiku sudah sampai pertengahan tangga ketika otakku mengingat sesuatu. Aku berbalik, kembali turun, dan membuka pintu ruang kerja. Reyn tidak ada di dalam, berarti ia ada di kamar. Aku menghampiri meja kerjanya dan mulai membuka laci satu per satu.
Aku tidak sedang memata-matai kakakku sendiri. Aku mencari akta kelahiran dan kartu keluarga untuk memenuhi persyaratan beasiswa. Biasanya, Reyn yang selalu mengurus segala bentuk persyaratan registrasi. Sejak aku masuk SMP sampai kuliah, aku tak pernah melihat akta ataupun kartu keluarga. Reyn yang mengurusi semuanya.
Tapi kali ini, aku ingin memberi kejutan. Diam-diam aku mengirim lamaran beasiswa. Lamaranku diterima. Aku tinggal melengkapi persyaratan administrasi saja.
Setelah membongkar hampir semua laci di meja kerja Reyn, akhirnya aku menemukan map hijau berisi akta kelahiranku, Reyn, dan Maia, kartu keluarga, serta beberapa lembar surat-surat penting lainnya. Aku tersenyum puas sambil membuka map itu.
”Ini dia akta kelahiranku,” batinku, ”Kartu keluarga...mmm...” aku mencari kartu keluarga, ”Eh??”
Aku tertegun ketika membaca tulisan di kartu keluarga. Tidak mungkin. Maia? Buru-buru aku mencari akta kelahiran Maia dan lebih terkejut lagi.
Tiba-tiba pintu ruang kerja menjeblak terbuka. Reyn. Ia terkejut mendapati aku berdiri kaku di samping meja kerjanya.
”Ay, sedang ap...” ia berhenti ketika melihat map hijau yang kupegang. Raut muka Reyn seketika berubah, ”Kamu baca, Ay?” tanyanya setengah berbisik.
Aku mengangguk. Tanpa sadar, air mata mengaliri pipiku.
Reyn menghampiri dan menuntunku ke ruang tengah. Kami duduk berdampingan. Ia merangkul bahuku. Tangan satunya lagi membelai rambutku dengan sayang. Aku terdiam.
”Sejak kapan kamu tahu?” tanyaku.
”Setelah Ayah dan Ibu meninggal,” jawabnya. Aku menegakkan duduk. Reyn melepas rangkulannya. Kami bertatap muka.
”Kenapa aku tidak diberitahu?”
”...”
”Rey?”
”Aku takut sikapmu akan berubah jika mengetahui hal ini,”
”...”
”Ay,” Reyn menggenggam tanganku, ”Aku tau kamu iri pada Maia. Karena Maia cantik, karena Maia merebut perhatian yang seharusnya ditujukan padamu.”
Aku tak menjawab.
”Ay, aku ingin kamu tetap menganggap Maia adik,” mata hujan Reyn menusuk.


02.42 WIB.
Suara telepon nyaring. Aku dan Ayla masih duduk di ruang tengah. Kami berpandangan. Siapa yang menelepon dini hari begini?
”Halo!” aku menempelkan gagang telepon ke telingaku.
”Rey?” tanya suara lelaki.
”Iya, ini siapa?”
”Rey, gue Awan. Maia masuk rumah sakit...”
“APA?” teriakku, “Apa yang terjadi?”
”Penjelasannya nanti aja,” desak Awan.
”OK. Rumah sakit mana?” Awan menyebutkan nama sebuah rumah sakit swasta di Bandung, ”Tunggu di sana!” telepon terputus.
”Kenapa, Rey?” tanya Ayla.
”Maia masuk rumah sakit,”
...
Gue duduk di samping ranjang Maia. Ia belum sadar. Dokter bilang, itu karena pengaruh obat penenang yang ia berikan. Sekarang gue bisa bernapas lega. Meskipun jantung gue belum berhenti berdetak dengan ritme tinggi.
Sekitar satu jam yang lalu, gue masih melaju dengan kecepatan penuh ke kos Nina. Sepanjang jalan gue terus berharap semoga gue nggak terlambat. Gue takut Nina menyakiti Maia.
Waktu sampai di kos Nina, gue langsung mendobrak pintu kamarnya. Gue benar-benar marah melihat Maia pingsan dalam keadaan (maaf) setengah telanjang sementara Nina memeluknya erat. Gue menjauhkan Maia dari Nina. Nina diam, terduduk pasrah di pojok kamar.
Dalam hati, gue memaki-maki diri gue sendiri. Goblok! Padahal gue sudah lama menyadari keanehan Nina. Gue sering menangkap basah Nina mengikuti setiap gerakan Maia dengan matanya. Gue juga sering melihat mata Nina berkilat penuh hasrat saat menatap Maia. Terakhir, gue pernah membaca tulisan tangan Nina. Isinya tentang bagaimana ia mencintai Maia.
Ah, seharusnya gue memberi tahu Maia. Seandainya dia tahu, dia pasti tidak akan mengalami kejadian mengerikan ini. Tapi gue terlalu takut Maia akan terluka saat mengetahui kalau sahabatnya...
“Awan,” seseorang memanggil nama gue. Reyn dan Ayla masuk ke ruangan tempat Maia dirawat.
”Apa yang terjadi?” Reyn menatap gue sementara Ayla mengelus tangan dan kepala adiknya.
Gue menceritakan semuanya. Reyn dan Ayla tak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka.
”Nina di mana sekarang?” muka Reyn merah karena marah.
”Ditahan di kantor polisi,”


03.59 WIB.
Kemarin motor gue masuk bengkel. Terpaksa gue naik angkot. Dan terjadilah pertemuan dengan Maia. Gadis yang bikin gue terpikat pada pandangan pertama. Gadis yang bisa bikin gue lupa kalau tujuan gue adalah warnet, bukan gazebo.
Gue memperhatikan Maia sejak kita masih di dalam angkot. Sepertinya Maia nggak sadar kalau gue duduk di depannya. Wajar saja, sepanjang jalan dia melamun.
Waktu dia turun di depan Gedung Sate, gue ikut turun. Dia menyeberangi jalan dan berhenti di gazebo. Gue berdiri di belakangnya. Entah kenapa, tiba-tiba gue bersuara,
”Matahari sudah terbenam sejak tadi. Kau menunggu di sini pun percuma. Langit tak akan berubah jadi terang...”
Gue kaget karena dia berbalik sambil berseru kegirangan, ”Awan, kok ada di si...ni...” ia terdiam saat menyadari gue bukan Awan.
Sampai sekarang gue masih bingung. Kenapa dorongan itu begitu kuat? Gue merasa hati gue ingin berada di dekat Maia. Apalagi gue melihat kesedihan di matanya. Kayak tertarik magnet, gue merasa harus menghibur Maia.
Akhirnya gue menemani Maia di gazebo. Gue bercerita tentang semua hal yang menurut gue bisa bikin dia ketawa. Gue suka suara tawanya yang terdengar lepas. Gue pengen Maia melupakan semua kesedihannya. Setidaknya, saat gue ada di sampingnya.
Hampir tengah malam waktu kami sampai di depan kos temannya. Katanya, dia tidak ingin pulang ke rumah malam itu. Sampai di sana, Maia malah berdiri di depan gue. Matanya menyiratkan ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia ragu-ragu.
Gue nggak bisa menahan senyum saat Maia berkali-kali mencoba bicara lalu kembali terdiam. Gue tahu, Maia ingin menanyakan nama gue. Gue sengaja nggak langsung memberitahukan nama. Maia terlihat manis saat malu-malu seperti itu.
Gue berharap bisa bertemu lagi dengan Maia. Dan perasaan gue bilang, harapan itu pasti jadi kenyataan.
...
”Nina harus dapat hukuman berat,” Reyn masih bergumam marah, ”Dia menyakiti Maia.”
”Udahlah, Rey...” Ayla mengelus punggung tangan kakaknya, ”Toh, sekarang dia ditahan di kantor polisi.”
”Nggak bisa!” Reyn menepis tangan Ayla. Ia berdiri dan menghampiri jendela. Ayla menggeser duduknya, menatap punggung Reyn dan membelakangi Maia.
”Maia aman sekarang,”
”Nggak bisa!” ujar Reyn sekali lagi, ”Aku nggak bisa mengampuni orang yang menyakiti Maia. Aku mencintai Maia, Ay!” setengah berteriak.
”Apa?” Ayla kaget mendengar ucapan Reyn, ”Kamu tidak...?” ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ayla menghampiri Reyn. Ia memandang mata kakaknya yang kini meredup.
”Sejak aku tau kalau Maia bukan adik kandung kita, aku berusaha menyayanginya sebagai adik. Tapi...” ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan, ”...aku mencintai Maia...” ujarnya pelan tapi terdengar jelas di keheningan dini hari itu.
Ayla memeluk kakaknya. Di depan pintu kamar, Awan menjatuhkan gelas plastik berisi kopi yang dipegangnya. Ia kaget mendengar percakapan dua bersaudara itu. Dan Maia?
Ia menangis diam-diam.


”BUGH!!!” Awan terjengkang ke belakang karena dipukul Abi.
”Hei!!” ia berteriak marah, ”Apa-apaan ini?”
”Kenapa lo diam aja?” Abi tak kalah marah, ”Kenapa lo nggak ngasih tau gue tentang Maia? Seharusnya lo ngasih tau gue semua hal tentang Maia!”
Mendengar kalimat sahabatnya itu, Awan naik pitam. Ia balik memukul Abi. Abi kaget, tak menyangka Awan akan memukulnya. Awan hampir tak pernah marah. Tapi Abi merasa, sekarang Awan sangat marah padanya.
”Lo keterlaluan, Bi!” Awan mencengkeram kerah baju Abi, ”Lo nggak pernah benar-benar peduli sama Maia. Lo cuma penasaran karena Maia nggak terpesona sama lo. Lo egois! Lo cuma mikirin perasaan lo sendiri!” Awan pergi meninggalkan Abi.
Abi tertegun.
...
Rumah sakit.
Aku duduk di bangku panjang depan kamar Maia. Aku tak berani masuk. Kata-kata Awan masih membekas di pikiranku. Benarkah?
Hei, kata hatiku, apa aku benar-benar mencintai Maia? Tidak. Aku hanya tertarik pada sosok Maia yang tidak seperti cewek lain. Karena Maia tidak pernah menganggapku istimewa.
”Abi?” aku mendongak. Ayla, kakak Maia, berdiri di hadapanku, ”Mau nengok Maia ya?” aku hanya tersenyum.
Aku bisa melihat Ayla kebingungan sesaat sebelum ia memutuskan untuk duduk di sampingku. Matanya menatapku khawatir. Aku balik menyelami mata Ayla.
Hmm, ia tak cantik seperti Maia. Tapi Ayla manis. Kulitnya gelap. Rambutnya bergelombang. Setahuku, umur Ayla dan Maia tak jauh beda. Tapi Ayla tampak jauh lebih dewasa. Matanya penuh pengertian.
”Kamu kenapa?” tanyanya pelan.
Aku terhanyut dalam kehangatan yang ia pancarkan. Dengan tersendat-sendat, aku menceritakan semua kegundahanku. Aku seperti terhipnotis. Ayla membuatku merasa nyaman di sampingnya.


Seminggu kemudian. Ruang tahanan perempuan.
Nina menatap Maia dan Awan. Mereka bertiga tak bersuara, saling menyelami perasaan masing-masing.
Tiba-tiba Maia menyentuh pipi Nina. Ia tersenyum lembut sambil menatap mata Nina.
“Sahabatku,” ujar Maia pelan.
Nina menangis sesenggukan.
”Maaf...” katanya.
Maia memeluk Nina. Nina balas memeluknya. Awan memeluk kedua sahabatnya itu.


Untuk Reyn dan Ayla,
Aku pergi.
Aku menyeberangi jalan dengan langkah yakin. Sampai di gazebo, aku duduk. Diam dan menunggu.
Kalian ingat Legenda Putri Sofi yang dulu sering dibacakan Ibu sebelum kita tidur? Sepertinya, aku memang menjalani garis takdir yang sama dengan Putri Sofi. Aku mengerti sekarang, kenapa Putri Sofi memutuskan untuk mengakhiri kekacauan dengan nyawanya sendiri.
Langit mulai gelap. Aku masih tak beranjak dari tempatku duduk. Aku memejamkan mata. Menikmati angin membelai wajahku.
Tapi tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu.
Karena aku menemukan jalan keluar lain. Jalan keluar yang tidak diambil Putri Sofi, yaitu...
Aku mendengar suara langkah berhenti di belakangku. Aku membuka mata.
...memilih salah satu dari empat kekuatan itu.
”Masih menunggu langit?” tanya suara di belakangku. Aku berdiri dan berbalik menghadap ke arahnya.
”Tidak,” jawabku pelan, ”Aku menunggu...”
Dan aku memilih...
”...angin.”
...angin.
Bayu tersenyum. Aku menghampirinya. Ia memelukku. Erat.



Kata Fajr:
Baru kali ini gue bikin note setelah cerpen.
Bicky: gue minta maaf. Gue ga bisa nepatin deadline. Tapi gue tetep ga terima hukuman yang lo kasih.
Bayu: gue pinjem nama lo lagi=)
Bicky lagi: ni cerpen terpanjang yang pernah gue buat. Thx, lo bikin gue kerja hyper rodi.
Dewi: gue tunggu komentar lo tentang cerpen gue. Btw, cerpen kedua gue mana?
Helmi: gue pinjem Thunder lo..hehe..
“Angin”: cepet sembuh yups..

(Read More..)

Ophi

Ide tuh munculnya ga tau waktu. Kdg lagi toilet-an, lagi maem, lagi bobo, lagi split, bahkan pas kita lagi nyebrangin nenek2 ato pas nyelametin kucing yg mo bnuh diri dr jmbatan Cincin.
Layaknya superhero, gw n Bicky menangkap ide yg udh siap2 kabur, trus kita kurung di layar komputer masing2.
JRENG...JRENG...jadilah cerpen2 ebat=)

Bicky

Mnurut gw lbih kren klo nylametin kucingna dari kbakarn, (tp bukan itu inti kolom ni). Bagi gw ide ad dimana2, bahkan di lobang idung kecoa.
Gw pernah mnelusuri data ttg asal mula kita bsa kracunan pestisida cma krna iseng blg klo kcoa pny stigma. Itulah ide. Ide2 sensasional yg ga trduga sbnrnya ad dskeliling qt.
Qt hnya prlu membaca alam. U/ mlatih snsitivitas itu gw bukan ahlina. Tapi saran aj, sering2 aj mratiin hal-hal kecil scara seksama. hwehwehwe ^_^!