Tiba-tiba aku terbangun. Aku duduk dan menatap sekeliling. Huff, ini kamarku. Sambil bersandar di dipan, aku mengingat kembali mimpiku barusan. Aku tak mengerti, kenapa belakangan ini aku sering memimpikan Ibu. Di dalam mimpiku, Ibu duduk di samping tempat tidur dan membacakan Legenda Putri Sofi. Persis seperti yang selalu Ibu lakukan setiap malam, sebelum ia meninggal. Tapi itu sudah lama sekali.
Aku ingat ketika kecelakaan merenggut nyawa Ayah dan Ibu. Umurku baru delapan tahun. Reyn dan Ayla, kakak-kakakku, bergantian memelukku sambil menangis. Lalu Reyn berkata, ”Mai, Ayah dan Ibu pergi ke surga”.
Sejak saat itu, Reyn menjadi kakak sekaligus ayah. Usia kami hanya terpaut empat tahun, tapi Reyn tampak begitu dewasa di mataku. Aku menyayangi dan menghormati Reyn. Begitu juga Ayla. Ia kakak perempuan yang baik. Meskipun ia tidak pernah bisa menggantikan Ibu di hatiku.
Setelah Ayah dan Ibu meninggal, kami tinggal bersama Eyang Putri. Rumahnya besar sekali. Terlalu besar malah. Aku tak begitu betah tinggal di rumah sebesar itu. Oleh karena itu, ketika Reyn lulus kuliah, aku mengusulkan untuk pindah ke rumah Ayah dan Ibu. Seperti biasa, Reyn mengabulkan keinginanku.
Sudah setahun kami tinggal di sini. Aku kembali menempati kamarku sewaktu kecil. Begitu juga Reyn dan Ayla. Sementara kamar Ayah dan Ibu kami sulap menjadi ruang kerja Reyn.
Kurasa, kami cukup bahagia. Setidaknya, kami tak kekurangan uang dan tidak terpisah satu sama lain. Reyn melarang aku dan Ayla kuliah di luar kota. Mungkin karena ia merasa lebih baik kami tetap tinggal di bawah satu atap.
Aku membuka laci meja di samping tempat tidurku. Laci paling bawah. Tangan kiriku mengambil buku tebal yang warnanya telah memudar dimakan usia. Kunyalakan lampu. Seketika kamarku menjadi terang. Aku bisa membaca tulisan di sampul buku yang kupegang.
”Legenda Putri Sofi...” ujarku pelan. Sementara malam menjelang fajar.
”Nina,” aku berjalan cepat menghampiri Nina, sahabatku.
”Baru datang?” tanya Nina pelan. Ah, suaranya memang selalu pelan. Aku tak pernah mendengar Nina berbicara dengan suara keras.
”He eh,” aku menyejajarkan langkahku dengannya, ”Kita kuliah di ruang mana?”
”Lima, tiga, dua tujuh...” maksudnya, gedung lima, lantai tiga, ruang dua puluh tujuh.
”Hai, Maia...” seseorang menyapaku. Aku spontan tersenyum dan balik menyapa. Meskipun, jujur saja, aku tak tahu nama orang yang menyapaku barusan.
...
Aku tersenyum melihat Maia berlari kecil menghampiriku. Ia tampak seperti bidadari. Rambut panjangnya terurai lurus. Kulitnya mulus, kuning langsat seperti seharusnya orang Indonesia. Hidung mancung. Bibirnya merah alami dengan deretan gigi yang rapi. Maia cantik. Ia bersinar. Semua orang menyukai Maia. Mungkin karena ia ramah dan selalu menebar senyum pada siapapun. Sosok perempuan sempurna.
Berjalan di samping Maia berarti menerima berjuta perhatian. Tak heran, karena semua orang di kampus mengenal Maia. Tepatnya mengagumi. Sepanjang jalan, hampir semua orang menyapa Maia. Seperti sekarang ini,
”Hai, Maia...” seseorang menyapa Maia.
”Ah, hai...ke mana?” Maia tersenyum dan balik menyapa orang itu.
”Ke kelas,”
”Oh, duluan ya...” Maia berlalu.
”Kamu kenal, Mai?” tanyaku.
”Nggak,” jawabnya ringan sambil mengangkat bahunya asal. Ah, bahkan ketika mengangkat bahu pun, ia tampak memesona. Aku hanya geleng-geleng kepala. Tak mengerti kenapa Maia begitu mudah melempar senyum.
Aku dan Nina masuk ke kelas. Aku duduk di samping Awan, sahabatku yang lain, sementara Nina duduk di sebelah kananku.
”Nih, DVD Avatar yang kamu pesen...” aku menyerahkan bungkusan yang kubawa pada Awan. Si penerima langsung menegakkan duduk.
”Hehe, makasih, Mai!” ujarnya sumringah.
Aku hanya tersenyum memerhatikan tingkah Awan yang memasukkan bungkusan itu ke dalam tas dengan hati-hati, seolah ia sedang memegang berlian.
Ardiawan. Aku tak mengerti kenapa ia lebih suka dipanggil Awan. Padahal aku ingin memanggilnya Ardi. Sejak menjadi anggota kelas ini, aku sudah menaruh perhatian padanya. Ia berbeda dari kebanyakan orang di kampus.
Sementara teman-teman yang lain menghabiskan waktu senggang dengan hura-hura atau hang out bareng, Awan justru lebih suka nonton film kartun. Kalau cowok lain sangat takut dikatakan melankolis, Awan justru suka menulis puisi.
Aku pernah mendapati Awan berdiri di tengah lapangan kampus. Hanya berdiri sambil menengadah ke langit. Padahal saat itu hujan deras. Waktu kutanya alasannya, ia tersenyum lalu menuliskan sesuatu. Ia menulis, ”Karena aku awan. Aku bertemankan hujan”.
Awan kekanak-kanakkan. Sedikit konyol memang. Mengingat usianya hampir kepala dua. Tapi menurutku, pemikirannya sama sekali jauh dari sifat kekanak-kanakkan. Awan juga jauh lebih peka dari semua cowok yang pernah kukenal. Ia menyejukkan. Benar-benar seperti awan.
Lebih dari itu, ada dua hal yang membuatku betah bersama Awan beberapa bulan terakhir ini. Ia tidak pernah berusaha memikatku. Ia tidak mengagumiku lebih dari seorang teman. Tidak seperti cowok lain. Dan satu lagi, ia bisa akrab dengan Reyn, kakakku.
...
Sudah hampir setahun gue mengenal Maia, gadis cantik dan periang. Maia yang lembut, santun, dan ramah. Kita berdua nggak pernah saling kenal sebelumnya. Tapi, BUMM! Dalam waktu beberapa bulan, gue menjelma jadi sahabat Maia.
Sebenarnya bukan kebetulan kalau sekarang gue adalah salah satu orang terdekat Maia. Lo kenal Abi? Ah, siapa yang tak kenal Abi. Seperti juga tak mungkin jika ada orang yang tak kenal Maia di kampus ini.
Abi, cowok idaman setiap cewek. Dengan modal badan atletis dan wajah tampan, Abi berhasil merebut perhatian hampir semua cewek, KECUALI Maia. Ya, MAIA. Ia tak pernah bisa membuat Maia bertekuk lutut padanya. Memang apa kekurangan Abi?
Dan akhirnya, gue ”diutus” Abi untuk menjadi Mas Cupid. Gue sahabat Abi sejak SMA. Semua orang tahu itu (mungkin). Gue sekelas dengan Maia. Dan muka innocent gue lolos sensor untuk mendekati Maia.
Awalnya, gue pikir Maia hanya cewek cantik yang manja dan kolokan seperti kebanyakan cewek cantik lain. Tapi ternyata gue salah. Maia berbeda. Dia nggak pernah mengeluh. Apapun yang terjadi, Maia selalu tersenyum. Seolah-olah, ia memang dilahirkan dengan bibir yang membentuk senyuman malaikat.
Rasa kagum gue bertambah saat mengetahui kalau Maia yatim piatu. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Sekarang ia tinggal dengan dua orang kakaknya.
Di mata gue, Maia begitu polos. Ia tak pernah menyadari dirinya dikagumi semua orang. Bahkan gue nggak yakin Maia tahu kalau dirinya cantik.
Gue nggak pernah merencanakan untuk terpikat pada gadis impian sahabat gue sendiri. Tapi kita tidak berdaya untuk mengatur kepada siapa kita jatuh cinta kan?
Abi berdiri di depan kelas Maia. Seperti biasa, ia menunggu gadis itu untuk mengajaknya pulang bersama. Abi melirik jam di tangannya. Sepuluh menit lagi. Ia menghembuskan napas.
Sambil bersandar ke dinding, Abi menatap Maia dari balik pintu yang di tengahnya ada kaca tembus pandang. Ia tak habis pikir, kenapa sampai sekarang Maia belum juga merespon perasaannya. Padahal Abi sudah mengerahkan segala pesona yang ia miliki untuk meluluhkan hati Maia. Tapi?
Kadang-kadang Abi merasa usahanya sia-sia. Ia ingin menyerah saja. Tapi setiap kali melihat Maia, hatinya seolah bertetap untuk tak segera putus asa. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk mendapatkan Maia. Hehe.
...
Maia segera memasukkan organizer kesayangannya ke tas ketika Bu Yesi, dosen Sosiologi Komunikasi, menutup pertemuan hari itu. Sambil bercanda, ia, Nina, dan Awan meninggalkan kelas.
”Hei, Bi!” Maia mendengar Awan memanggil seseorang. Ia mengikuti arah pandangan Awan dan bertemu mata dengan Abi. Refleks, bibirnya menyunggingkan senyum. Abi balas tersenyum padanya.
”Mau jemput Maia, ya?” Awan meledek Abi. Sementara Nina hanya diam memerhatikan, ”Nggak boleh. Hari ini Maia pulang bareng gue dan Nina...”
Maia menyikut pinggang Awan. Yang disikut langsung berteriak histeris, mendramatisir.
”Iya, iya...” Awan memasang wajah cemberut, jelas dibuat-buat, ”Gih, sana! Pulang bareng pangeran lo...” ia mendorong punggung Maia sehingga gadis itu berdiri di samping Abi. Wajahnya bersemu merah, begitu juga dengan wajah Abi.
Satu hati meradang melihat Maia bersanding dengan Abi.
”Arrgh...kenapa dia harus pulang dengan Abi?” aku berteriak marah di kamar kosku.
Masih dengan perasaan kesal, aku melempar tubuhku ke kasur. Aku berbaring diam. Bagaimana ini? Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada Maia. Jantungku selalu berdebar tak keruan setiap kali melihat Maia tersenyum.
Maia, Maia, Maia. Hanya nama itu yang memenuhi pikiranku. Maia harus jadi milikku.
Aku mengambil foto Maia yang terbingkai rapi di meja. Aku menatap foto itu lalu menciumnya. Aku memeluk foto itu seolah sedang memeluk Maia, sampai aku tertidur.
Entah kenapa, aku selalu kehilangan kata-kata jika berada di dekat Abi. Mungkin karena aku sadar, Abi memerhatikanku lebih dari seorang teman.
Hampir setiap hari, Abi mengantarku pulang dengan motor Thunder-nya. Padahal rumah kami berbeda arah. Aku terharu dengan pengorbanan Abi. Tapi aku tetap tidak bisa menerima Abi sebagai sosok yang istimewa di hatiku.
Aku mengagumi Abi. Tampan, cerdas. Tindak-tanduknya tenang dan penuh perhitungan. Abi dewasa. Ia membuatku merasa aman setiap kali bersamanya. Ia seorang yang sempurna dan tak bercacat. Hanya satu kekurangan Abi: terlalu sempurna. Dan hal ini yang membuatku sulit menerima Abi.
Meskipun begitu, aku tidak bisa meminta Abi berhenti mencurahkan perhatian padaku. Rasanya kejam sekali jika aku tidak memberi Abi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Lagipula Abi tak pernah kurang ajar padaku. Ia selalu bersikap santun.
Aku berhenti menulis ketika mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Pasti Maia pulang diantar pemuda itu lagi. Aku mengintip dari jendela ruang kerja yang langsung menghadap halaman depan.
Maia turun dari Thunder Abi. Ia tak langsung masuk ke rumah. Maia berdiri memunggungi jendela sehingga aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Mereka tampak berbincang-bincang. Beberapa kali aku melihat Abi tersenyum pada Maia. Seandainya aku bisa mendengar percakapan mereka.
Jujur saja, aku tak pernah suka jika ada lelaki yang mendekati Maia. Rasanya, tak ada lelaki yang cukup layak untuk bersanding dengan adikku. Setiap kali Maia tampak akrab dengan seorang lelaki, aku pasti langsung mencari seribu satu alasan agar Maia menjauhinya.
Begitu juga dengan Abi. Aku bukannya tidak pernah berusaha menjauhkan Maia dari Abi. Hanya saja, aku tak menemukan satu pun kelemahan yang bisa kujadikan alasan untuk memperkuat argumenku.
Aku tahu, Maia sangat percaya padaku. Apapun yang kukatakan, pasti ia patuhi. Tapi aku harus berhati-hati. Maia bukan lagi anak ingusan yang akan menuruti semua perkataanku. Lagipula aku tak mau Maia menganggapku mengekang kebebasannya. Lebih baik aku bersabar.
...
Sepanjang perjalanan menuju rumah Maia, aku lebih banyak diam. Aku tak mengerti, bagaimana bisa aku begitu ’pendiam’ saat bersama Maia. Bisa-bisa, hubungan kami hanya akan berakhir sebagai Putri dan Kusir Kereta Kuda.
Aku menghentikan motorku tepat di depan rumahnya. Maia turun. Kupikir, ia akan langsung masuk ke rumah seperti biasanya. Tapi dugaanku salah. Gadis itu malah berdiri di sampingku.
”Kenapa, Mai?” tanyaku heran.
”Mmm, nggak pa-pa...” ia terdiam. Aku melihat rona merah mulai menjalar di pipinya. Aku tersenyum. Tampaknya Maia gugup.
”Harus aku antar sampai ke pintu?” godaku.
”Eh, nggak perlu...makasih...” Maia terkejut mendengar pertanyaanku.
Aku tersenyum lagi. Kesempatan, pikirku.
”Jalan, yuk!”
”Eh?”
”Jalan-jalan. Berdua.” Maia terdiam sesaat.
”...boleh...” Yes, teriak hatiku.
”Kalo gitu, besok jam empat sore, aku jemput kamu. Gimana?”
”Hmm,” jawabnya singkat.
”Masuk, gih! Aku pulang dulu ya...” aku menunggu sampai Maia menghilang di balik pintu, baru kuajak Thunder-ku beranjak dari tempat itu.
...
Aku menutup pintu rumah tapi tak segera masuk ke kamar. Aku mengintip Abi dari jendela. Ia masih duduk di atas Thunder-nya sambil menatap pintu rumahku. Sepertinya, ia menunggu sampai aku benar-benar masuk ke rumah, baru pulang. Tak lama, aku melihat Abi memakai kembali helm yang tadi dilepasnya lalu berlalu dari halaman rumahku.
”Huff...” aku menghembuskan napas lega. Jantungku tak mau berhenti berdebar kencang setiap kali bersama Abi.
”Cieee...dianter sama siapa nih?” aku mendongak. Ayla tampak berdiri di ujung atas tangga sambil tersenyum menggoda.
”Aaaahhh!!!!!” aku berteriak, ”Kamu ngintip ya?” aku tak pernah memanggil Ayla dengan panggilan ’kakak’. Toh, usia kami hanya beda empat belas bulan.
”Hahahaha...Mai kecil cudah dewaca ya...” ledek Ayla sambil menghambur ke kamarnya. Aku berlari menaiki tangga, mengejar Ayla. Begitu berhasil menangkap Ayla, aku menghujaninya dengan kelitikan paling jitu.
Setelah lelah bermain kejar-kejaran, aku berbaring di tempat tidur Ayla.
”Ay, menurut kamu, Abi gimana?” aku memandangi Ayla yang juga berbaring di sampingku.
”He looks nice,” ujarnya singkat.
“Besok dia ngajak jalan,”
”Serius, Mai?” Ayla bangun, ”Berarti ini kencan pertama kamu...” aku mengangguk, ”Reyn masih ngelarang kamu deket sama cowok?” tanya Ayla pelan.
”Kita belum pernah ngebahas masalah ini lagi...”
”Yah, mudah-mudahan Reyn ngizinin kamu jalan bareng Abi.”
Kami berdua terdiam.
Baru kali ini aku bertengkar dengan Reyn. Aku tak pernah melihatnya begitu marah padaku. Dan aku tak mengerti, kenapa ia sangat marah waktu kubilang, aku tetap ingin pergi bersama Abi sekalipun Reyn melarangku.
Selama ini, aku tak pernah membantah jika Reyn melarangku bergaul dengan kaum Adam. Aku tahu, Reyn melakukan itu untuk menjagaku. Agar aku tidak disakiti. Tapi kali ini Reyn keterlaluan. Aku sudah cukup dewasa. Reyn tidak berhak mencampuri urusan pribadiku.
...
”BRAKK!!” aku menggebrak meja. Baru kali ini Maia menentang keputusanku. Dan kenapa aku begitu marah karena Maia ngotot ingin pergi dengan laki-laki lain?
Tunggu! Laki-laki lain? Aku tertegun menyadari ada sesuatu yang janggal pada suara hatiku itu.
Tidak. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Sejak aku mengetahui hal itu, aku telah bersumpah akan menjaga Maia sebagai ’kakak’. Aku tidak akan menjadi ’laki-laki’ bagi Maia. Aku hanya akan menjadi ’kakak’.
Aku menggelengkan kepalaku lalu membuka laci meja. Kuambil map berwarna hijau dari dalam laci. Kubuka dan kubaca. Di baris ketiga tertulis nama Maia Widyana. Di kolom berikutnya, masih di baris yang sama, tertulis dua kata: anak angkat.
Sudah hampir satu jam aku duduk di ruang tamu rumah Maia. Tidak. Maia tidak ada. Aku duduk berhadapan dengan Reyn dan Ayla, kakak Maia. Jujur, aku bingung. Aku merasa seperti menjalani sidang dengan dua orang hakim.
Aku tak tahu bagaimana ekspresi mukaku saat Reyn membukakan pintu. Ia langsung menyambut kedatanganku dengan pertanyaan. Intinya dia ingin tahu, ke mana Maia? Jelas aku bingung. Aku datang ke rumah ini kan untuk menjemput Maia. Kalau Maia pergi sebelum aku datang, aku tak tahu dia ke mana.
Aku seperti orang bodoh. Hanya duduk di ruang tamu. Tak bicara sepatah kata pun. Seharusnya malam ini aku bersenang-senang dengan Maia. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Tiba-tiba pergi dari rumah dan membuat keluarganya kalang kabut.
Tapi aku tak ingin menunjukkan kegelisahanku di depan kedua kakak Maia, terutama Reyn. Aku berusaha bersikap tenang. Aku juga tetap bicara dengan nada datar.
...
Aku benar-benar terkejut saat Ayla masuk ke ruang kerja sambil berteriak panik, ”Maia hilang!”
Sel-sel otakku langsung dikuasai marah dan panik sekaligus. Marah karena kupikir, Maia pergi menemui Abi tanpa sepengetahuanku. Panik karena Maia tak pernah begini sebelumnya. Maia bukan orang yang emosional. Gadis itu tak pernah bertindak sembarangan.
Aku terkejut untuk kedua kalinya saat Abi datang ke rumah tanpa Maia. Ia datang sendiri dan bermaksud menjemput Maia. Aku bisa melihat kebingungan di mata Abi saat mendengar Maia tak ada. Tapi hanya sekejap, karena ia segera menguasai diri.
Sekarang aku, Ayla, dan Abi duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Hening. Aku jadi punya kesempatan untuk menilai pemuda di hadapanku ini.
Hmm, sosok atletis dan tampan. Matanya tampak cerdas. Sikap Abi tenang dan mengawasi. Sangat dewasa untuk usia yang baru menginjak dua puluh. Pantas Maia tertarik pada Abi.
Tak urung, sebersit cemburu menyelusup di hatiku.
...
Aku benar-benar panik waktu menyadari Maia tak ada di rumah. Reyn pun tak kalah panik dariku. Tadinya, kami mengambil kesimpulan kalau Maia pergi menemui Abi. Tapi begitu Abi datang ke rumah sendiri, kami sadar Maia tidak bersama Abi. Lalu dia ke mana?
Akhirnya, kami bertiga hanya duduk diam di ruang tamu. Menunggu Maia pulang. Sesekali aku mencuri pandang ke arah Abi. Ini pertama kalinya aku bertemu muka dengan Abi.
Tampan. Hatiku tersenyum.
Abi begitu tenang. Ia seperti langit yang tampak ’diam’ dan ’menunggu’. Abi tidak bicara kecuali menjawab pertanyaan Reyn. Ia juga tidak memperlihatkan rasa gentar saat menatap mata Reyn. Padahal semua orang selalu menghindari tatapannya. Mata Reyn bisa menembus hati, seperti hujan yang membasahi bumi sampai ke dasarnya.
Oh, tidak! Aku segera menyadarkan hatiku yang terpesona pada Abi. Ini gila. Maia menyukai Abi. Begitu juga sebaliknnya. Aku tak boleh jatuh cinta pada Abi.
Hhh, kenapa aku dan Maia begitu berbeda? Maia cantik dan disukai semua orang. Sementara aku biasa-biasa saja. Aku juga tak begitu pandai bergaul. Maia menyedot perhatian semua orang termasuk Ayah, Ibu, dan Reyn. Jujur saja, aku iri. Tapi aku berusaha menganggapnya sebagai satu hal yang wajar. Karena Maia layak memperoleh semua itu.
Dan Abi adalah ’langit’. Ia layak bersanding dengan Maia.
Aku berjalan tak tentu arah. Aku sendiri tak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ada dorongan yang begitu kuat untuk pergi dari rumah. Aku hanya tak ingin berada di rumah. Aku tak ingin berada di dekat Reyn.
Akhirnya aku duduk di gazebo depan Gedung Sate.
”Matahari sudah terbenam sejak tadi. Kau menunggu di sini pun percuma. Langit tak akan berubah jadi terang...” seseorang berbicara di belakangku.
Aku langsung berbalik kegirangan, ”Awan, kok ada di si...ni...” aku terdiam begitu menyadari orang yang ada di belakangku bukan Awan. Aku tak tahu siapa dia. Maka aku hanya diam. Malu.
”Kenapa diam?” lelaki itu mendekatiku. Aku ingin menjauh, tapi badanku menolak. Sepertinya ada sesuatu yang membuatku yakin kalau ia tidak jahat.
Cahaya bulan menyinari wajahnya. Aku bisa melihatnya tersenyum. Senyum yang indah. Ringan, tanpa beban. Aku terhanyut dan ikut tersenyum.
”Kamu cantik...” ujarnya ringan. Aku tersipu. Senyumku semakin lebar.
”Kenapa hanya ada sedikit bintang di langit?” tanyanya tiba-tiba. Aku menengadah ke langit. Hampir tak ada bintang yang tampak tapi aku tak tahu sebabnya. Aku menggeleng sambil menatap lelaki itu. Ia balik menatapku, masih tersenyum.
”Karena bintangnya sudah pindah ke matamu...” aku terdiam. Detik berikutnya, aku tertawa. Ya, tertawa! Aku sendiri heran. Padahal selama ini aku jarang sekali tertawa.
Setelah itu, kami duduk berdampingan layaknya kawan dekat. Ia bercerita tentang banyak hal, aku tertawa. Sesekali aku menanggapi ceritanya atau balik bercerita. Aku tak tahu ia bosan atau tidak dengan ceritaku, tapi ia tampak mendengarkan. Sampai akhirnya lelaki itu mengantarku ke kos Nina. Aku tak ingin pulang ke rumah.
Kami berdiri berhadapan. Tanpa suara. Rasanya berat sekali untuk berpisah dengannya.
”Eh...” aku mencoba bersuara, tapi tak bisa.
”Apa?” ia tersenyum.
”Nggak,” aku menunduk, ”Bukan apa-apa...”
”Ah, apaan sih...ngomong tapi nggak jadi!” ia merajuk.
”Yaudah, anu...” aku terdiam lagi.
”...??”
”Nggak jadi deh,” aku berbalik tapi...
”Aku mau tanya, namamu siapa?” akhirnya aku berani mengajukan pertanyaan itu. Ia kembali tersenyum, kali ini lebih lebar.
”Nah, gitu dong...” ia berhenti sejenak, ”Namaku Angin.”
”Eh?”
”Kata lain dari Bayu,” aku menatap Bayu, ”Kamu?”
”Maia,”
Aku merasa wajahku memanas.
Aku mendengar jantungku berdetak kencang saat dia masuk ke kamar. Ia tampak begitu cantik malam ini. Rambutnya tergerai indah. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya karena dia hanya memakai kaos tipis dan celana selutut.
Seperti biasa, ia tersenyum manja padaku. Ia bahkan meletakkan kepalanya di pahaku. Aku membelai rambutnya. Dan setiap kali aku menyentuhnya, ada sensasi aneh menjalar di tubuhku.
01.46 WIB.
Jantung gue hampir copot saat nama Maia muncul di layar ponsel gue. Sudah hampir jam dua pagi. Ada apa?
Buru-buru gue mengangkat ponsel.
”Halo, Mai! Ada apa?” tanya gue.
Tidak ada jawaban. Hanya suara gaduh yang tak jelas.
Gue heran, kenapa Maia menelepon tapi tidak bicara.
Tiba-tiba gue mendengar jeritan di seberang. Gue yakin itu suara Maia.
“Mai! Halo! Mai, lo kenapa? Mai?” gue berteriak panik sambil memegang ponsel erat.
“…lepasin, Na…” samar-samar, gue bisa mendengar Maia bicara pada seseorang.
”Mai, lo kenapa?” gue kembali bicara.
”...lepasin aku!!” lagi-lagi gue mendengar Maia bicara, tepatnya berteriak, pada seseorang. Dari nada suaranya, gue merasa Maia marah, jijik sekaligus takut.
Sekali lagi, Maia menjerit. Lalu,
”Awan, tolong!! Nina nyerang aku! Tolong aku, Wan!!!” kali ini suara Maia terdengar jelas. Sepertinya ia memencet tombol loudspeaker. Maia berteriak ke gue. GUE??
”Lo di mana?” gue ikut berteriak.
”Kos Nin...tuut...tuut...” telepon terputus.
Sial! Gue langsung melompat dari tempat tidur. Gue ambil kunci motor dan keluar dari kamar. Setengah berlari, gue menuruni tangga. Gue buka pintu garasi lalu memacu motor gue ke kos Nina.
Kalau benar Maia ada di kos Nina, berarti dia dalam bahaya!
Aku merasa ada tangan yang menggerayangi tubuhku. Setengah sadar, aku bergidik. Geli sekaligus jijik. Lalu bibirku dikecup pelan, lembut. Aku tersentak dan membuka mata.
”Nina?” aku menjauhkan wajahku dari wajah Nina yang menunduk di atas wajahku, ”Apa-apaan ini?” aku syok. Pasti aku bermimpi. Tak mungkin Nina melakukan semua ini padaku.
”Tenang, Mai...” ia berkata pelan. Aku melihat Nina tampak tegang, ”aku bisa menjelaskan semuanya...” ia mencoba memegang tanganku.
Aku menghindari tangannya lalu mundur. Posisiku tidak menguntungkan karena pintu ada di belakang Nina. Aku tak mungkin berdiri dan berlari keluar. Aku terus mundur sampai tanganku menyentuh sesuatu di balik punggungku. Ponsel.
Sambil tetap menatap Nina, diam-diam aku mencoba menekan tombol angka dua di ponselku. Speed dial untuk Awan. Dalam hati aku berharap Awan mengangkat ponselnya.
Tiba-tiba Nina menerjang tubuhku. Ia mencoba menciumku lagi. Aku menjerit dan berusaha mendorong Nina dengan tangan. Tapi tangan kananku menggenggam ponsel, sedangkan Nina memegangi tangan kiriku. Dengan mudah, Nina menindih badanku.
”Lepasin, Na...” ucapku memohon padanya. Tapi Nina tidak mengacuhkanku. Aku benar-benar merasa jijik sekaligus takut, ”Lepasin aku!!” teriakku marah.
Lalu aku teringat pada ponsel yang masih kugenggam erat. Aku menekan tombol loudspeaker,
”Awan, tolong!! Nina nyerang aku! Tolong aku, Wan!!!” aku berteriak sekuat tenaga. Nina kaget dan berhenti menggerayangi tubuhku. Aku terdiam.
”Lo di mana?” suara Awan terdengar dari ponselku.
”Kos Nin...” aku belum selesai bicara ketika Nina pulih dari rasa kagetnya. Ia merebut ponselku dan melemparnya ke sudut ruangan. Aku bisa melihat benda itu mendarat sempurna dan hancur berantakan.
Badanku lemas. Tuhan, tolong aku!
Rumah Maia. Tiga jam sebelumnya.
Aku mengantar Abi sampai ia menaiki Thunder dan meninggalkan rumah. Ia tampak lelah. Berjam-jam kami menunggu Maia pulang tapi sia-sia. Aku sudah menghubungi ponselnya, tapi panggilanku selalu dialihkan.
Setelah Abi berbelok di ujung jalan, aku kembali masuk ke rumah. Aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Reyn sudah tak ada di ruang tamu. Mungkin ia di kamar atau di ruang kerja.
Aku mengangkat cangkir-cangkir kotor dari meja ruang tamu. Kubawa ke dapur lalu kucuci sampai bersih.
Kakiku sudah sampai pertengahan tangga ketika otakku mengingat sesuatu. Aku berbalik, kembali turun, dan membuka pintu ruang kerja. Reyn tidak ada di dalam, berarti ia ada di kamar. Aku menghampiri meja kerjanya dan mulai membuka laci satu per satu.
Aku tidak sedang memata-matai kakakku sendiri. Aku mencari akta kelahiran dan kartu keluarga untuk memenuhi persyaratan beasiswa. Biasanya, Reyn yang selalu mengurus segala bentuk persyaratan registrasi. Sejak aku masuk SMP sampai kuliah, aku tak pernah melihat akta ataupun kartu keluarga. Reyn yang mengurusi semuanya.
Tapi kali ini, aku ingin memberi kejutan. Diam-diam aku mengirim lamaran beasiswa. Lamaranku diterima. Aku tinggal melengkapi persyaratan administrasi saja.
Setelah membongkar hampir semua laci di meja kerja Reyn, akhirnya aku menemukan map hijau berisi akta kelahiranku, Reyn, dan Maia, kartu keluarga, serta beberapa lembar surat-surat penting lainnya. Aku tersenyum puas sambil membuka map itu.
”Ini dia akta kelahiranku,” batinku, ”Kartu keluarga...mmm...” aku mencari kartu keluarga, ”Eh??”
Aku tertegun ketika membaca tulisan di kartu keluarga. Tidak mungkin. Maia? Buru-buru aku mencari akta kelahiran Maia dan lebih terkejut lagi.
Tiba-tiba pintu ruang kerja menjeblak terbuka. Reyn. Ia terkejut mendapati aku berdiri kaku di samping meja kerjanya.
”Ay, sedang ap...” ia berhenti ketika melihat map hijau yang kupegang. Raut muka Reyn seketika berubah, ”Kamu baca, Ay?” tanyanya setengah berbisik.
Aku mengangguk. Tanpa sadar, air mata mengaliri pipiku.
Reyn menghampiri dan menuntunku ke ruang tengah. Kami duduk berdampingan. Ia merangkul bahuku. Tangan satunya lagi membelai rambutku dengan sayang. Aku terdiam.
”Sejak kapan kamu tahu?” tanyaku.
”Setelah Ayah dan Ibu meninggal,” jawabnya. Aku menegakkan duduk. Reyn melepas rangkulannya. Kami bertatap muka.
”Kenapa aku tidak diberitahu?”
”...”
”Rey?”
”Aku takut sikapmu akan berubah jika mengetahui hal ini,”
”...”
”Ay,” Reyn menggenggam tanganku, ”Aku tau kamu iri pada Maia. Karena Maia cantik, karena Maia merebut perhatian yang seharusnya ditujukan padamu.”
Aku tak menjawab.
”Ay, aku ingin kamu tetap menganggap Maia adik,” mata hujan Reyn menusuk.
02.42 WIB.
Suara telepon nyaring. Aku dan Ayla masih duduk di ruang tengah. Kami berpandangan. Siapa yang menelepon dini hari begini?
”Halo!” aku menempelkan gagang telepon ke telingaku.
”Rey?” tanya suara lelaki.
”Iya, ini siapa?”
”Rey, gue Awan. Maia masuk rumah sakit...”
“APA?” teriakku, “Apa yang terjadi?”
”Penjelasannya nanti aja,” desak Awan.
”OK. Rumah sakit mana?” Awan menyebutkan nama sebuah rumah sakit swasta di Bandung, ”Tunggu di sana!” telepon terputus.
”Kenapa, Rey?” tanya Ayla.
”Maia masuk rumah sakit,”
...
Gue duduk di samping ranjang Maia. Ia belum sadar. Dokter bilang, itu karena pengaruh obat penenang yang ia berikan. Sekarang gue bisa bernapas lega. Meskipun jantung gue belum berhenti berdetak dengan ritme tinggi.
Sekitar satu jam yang lalu, gue masih melaju dengan kecepatan penuh ke kos Nina. Sepanjang jalan gue terus berharap semoga gue nggak terlambat. Gue takut Nina menyakiti Maia.
Waktu sampai di kos Nina, gue langsung mendobrak pintu kamarnya. Gue benar-benar marah melihat Maia pingsan dalam keadaan (maaf) setengah telanjang sementara Nina memeluknya erat. Gue menjauhkan Maia dari Nina. Nina diam, terduduk pasrah di pojok kamar.
Dalam hati, gue memaki-maki diri gue sendiri. Goblok! Padahal gue sudah lama menyadari keanehan Nina. Gue sering menangkap basah Nina mengikuti setiap gerakan Maia dengan matanya. Gue juga sering melihat mata Nina berkilat penuh hasrat saat menatap Maia. Terakhir, gue pernah membaca tulisan tangan Nina. Isinya tentang bagaimana ia mencintai Maia.
Ah, seharusnya gue memberi tahu Maia. Seandainya dia tahu, dia pasti tidak akan mengalami kejadian mengerikan ini. Tapi gue terlalu takut Maia akan terluka saat mengetahui kalau sahabatnya...
“Awan,” seseorang memanggil nama gue. Reyn dan Ayla masuk ke ruangan tempat Maia dirawat.
”Apa yang terjadi?” Reyn menatap gue sementara Ayla mengelus tangan dan kepala adiknya.
Gue menceritakan semuanya. Reyn dan Ayla tak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka.
”Nina di mana sekarang?” muka Reyn merah karena marah.
”Ditahan di kantor polisi,”
03.59 WIB.
Kemarin motor gue masuk bengkel. Terpaksa gue naik angkot. Dan terjadilah pertemuan dengan Maia. Gadis yang bikin gue terpikat pada pandangan pertama. Gadis yang bisa bikin gue lupa kalau tujuan gue adalah warnet, bukan gazebo.
Gue memperhatikan Maia sejak kita masih di dalam angkot. Sepertinya Maia nggak sadar kalau gue duduk di depannya. Wajar saja, sepanjang jalan dia melamun.
Waktu dia turun di depan Gedung Sate, gue ikut turun. Dia menyeberangi jalan dan berhenti di gazebo. Gue berdiri di belakangnya. Entah kenapa, tiba-tiba gue bersuara,
”Matahari sudah terbenam sejak tadi. Kau menunggu di sini pun percuma. Langit tak akan berubah jadi terang...”
Gue kaget karena dia berbalik sambil berseru kegirangan, ”Awan, kok ada di si...ni...” ia terdiam saat menyadari gue bukan Awan.
Sampai sekarang gue masih bingung. Kenapa dorongan itu begitu kuat? Gue merasa hati gue ingin berada di dekat Maia. Apalagi gue melihat kesedihan di matanya. Kayak tertarik magnet, gue merasa harus menghibur Maia.
Akhirnya gue menemani Maia di gazebo. Gue bercerita tentang semua hal yang menurut gue bisa bikin dia ketawa. Gue suka suara tawanya yang terdengar lepas. Gue pengen Maia melupakan semua kesedihannya. Setidaknya, saat gue ada di sampingnya.
Hampir tengah malam waktu kami sampai di depan kos temannya. Katanya, dia tidak ingin pulang ke rumah malam itu. Sampai di sana, Maia malah berdiri di depan gue. Matanya menyiratkan ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia ragu-ragu.
Gue nggak bisa menahan senyum saat Maia berkali-kali mencoba bicara lalu kembali terdiam. Gue tahu, Maia ingin menanyakan nama gue. Gue sengaja nggak langsung memberitahukan nama. Maia terlihat manis saat malu-malu seperti itu.
Gue berharap bisa bertemu lagi dengan Maia. Dan perasaan gue bilang, harapan itu pasti jadi kenyataan.
...
”Nina harus dapat hukuman berat,” Reyn masih bergumam marah, ”Dia menyakiti Maia.”
”Udahlah, Rey...” Ayla mengelus punggung tangan kakaknya, ”Toh, sekarang dia ditahan di kantor polisi.”
”Nggak bisa!” Reyn menepis tangan Ayla. Ia berdiri dan menghampiri jendela. Ayla menggeser duduknya, menatap punggung Reyn dan membelakangi Maia.
”Maia aman sekarang,”
”Nggak bisa!” ujar Reyn sekali lagi, ”Aku nggak bisa mengampuni orang yang menyakiti Maia. Aku mencintai Maia, Ay!” setengah berteriak.
”Apa?” Ayla kaget mendengar ucapan Reyn, ”Kamu tidak...?” ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ayla menghampiri Reyn. Ia memandang mata kakaknya yang kini meredup.
”Sejak aku tau kalau Maia bukan adik kandung kita, aku berusaha menyayanginya sebagai adik. Tapi...” ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan, ”...aku mencintai Maia...” ujarnya pelan tapi terdengar jelas di keheningan dini hari itu.
Ayla memeluk kakaknya. Di depan pintu kamar, Awan menjatuhkan gelas plastik berisi kopi yang dipegangnya. Ia kaget mendengar percakapan dua bersaudara itu. Dan Maia?
Ia menangis diam-diam.
”BUGH!!!” Awan terjengkang ke belakang karena dipukul Abi.
”Hei!!” ia berteriak marah, ”Apa-apaan ini?”
”Kenapa lo diam aja?” Abi tak kalah marah, ”Kenapa lo nggak ngasih tau gue tentang Maia? Seharusnya lo ngasih tau gue semua hal tentang Maia!”
Mendengar kalimat sahabatnya itu, Awan naik pitam. Ia balik memukul Abi. Abi kaget, tak menyangka Awan akan memukulnya. Awan hampir tak pernah marah. Tapi Abi merasa, sekarang Awan sangat marah padanya.
”Lo keterlaluan, Bi!” Awan mencengkeram kerah baju Abi, ”Lo nggak pernah benar-benar peduli sama Maia. Lo cuma penasaran karena Maia nggak terpesona sama lo. Lo egois! Lo cuma mikirin perasaan lo sendiri!” Awan pergi meninggalkan Abi.
Abi tertegun.
...
Rumah sakit.
Aku duduk di bangku panjang depan kamar Maia. Aku tak berani masuk. Kata-kata Awan masih membekas di pikiranku. Benarkah?
Hei, kata hatiku, apa aku benar-benar mencintai Maia? Tidak. Aku hanya tertarik pada sosok Maia yang tidak seperti cewek lain. Karena Maia tidak pernah menganggapku istimewa.
”Abi?” aku mendongak. Ayla, kakak Maia, berdiri di hadapanku, ”Mau nengok Maia ya?” aku hanya tersenyum.
Aku bisa melihat Ayla kebingungan sesaat sebelum ia memutuskan untuk duduk di sampingku. Matanya menatapku khawatir. Aku balik menyelami mata Ayla.
Hmm, ia tak cantik seperti Maia. Tapi Ayla manis. Kulitnya gelap. Rambutnya bergelombang. Setahuku, umur Ayla dan Maia tak jauh beda. Tapi Ayla tampak jauh lebih dewasa. Matanya penuh pengertian.
”Kamu kenapa?” tanyanya pelan.
Aku terhanyut dalam kehangatan yang ia pancarkan. Dengan tersendat-sendat, aku menceritakan semua kegundahanku. Aku seperti terhipnotis. Ayla membuatku merasa nyaman di sampingnya.
Seminggu kemudian. Ruang tahanan perempuan.
Nina menatap Maia dan Awan. Mereka bertiga tak bersuara, saling menyelami perasaan masing-masing.
Tiba-tiba Maia menyentuh pipi Nina. Ia tersenyum lembut sambil menatap mata Nina.
“Sahabatku,” ujar Maia pelan.
Nina menangis sesenggukan.
”Maaf...” katanya.
Maia memeluk Nina. Nina balas memeluknya. Awan memeluk kedua sahabatnya itu.
Untuk Reyn dan Ayla,
Aku pergi.
Aku menyeberangi jalan dengan langkah yakin. Sampai di gazebo, aku duduk. Diam dan menunggu.
Kalian ingat Legenda Putri Sofi yang dulu sering dibacakan Ibu sebelum kita tidur? Sepertinya, aku memang menjalani garis takdir yang sama dengan Putri Sofi. Aku mengerti sekarang, kenapa Putri Sofi memutuskan untuk mengakhiri kekacauan dengan nyawanya sendiri.
Langit mulai gelap. Aku masih tak beranjak dari tempatku duduk. Aku memejamkan mata. Menikmati angin membelai wajahku.
Tapi tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu.
Karena aku menemukan jalan keluar lain. Jalan keluar yang tidak diambil Putri Sofi, yaitu...
Aku mendengar suara langkah berhenti di belakangku. Aku membuka mata.
...memilih salah satu dari empat kekuatan itu.
”Masih menunggu langit?” tanya suara di belakangku. Aku berdiri dan berbalik menghadap ke arahnya.
”Tidak,” jawabku pelan, ”Aku menunggu...”
Dan aku memilih...
”...angin.”
...angin.
Bayu tersenyum. Aku menghampirinya. Ia memelukku. Erat.
Kata Fajr:
Baru kali ini gue bikin note setelah cerpen.
Bicky: gue minta maaf. Gue ga bisa nepatin deadline. Tapi gue tetep ga terima hukuman yang lo kasih.
Bayu: gue pinjem nama lo lagi=)
Bicky lagi: ni cerpen terpanjang yang pernah gue buat. Thx, lo bikin gue kerja hyper rodi.
Dewi: gue tunggu komentar lo tentang cerpen gue. Btw, cerpen kedua gue mana?
Helmi: gue pinjem Thunder lo..hehe..
“Angin”: cepet sembuh yups..